Tampilkan postingan dengan label My Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Short Story. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Oktober 2012

My Short Story: Tangkai-Tangkai Bunga Punya Nika









Meninggalkan gerbang putih yang seharusnya penuh kenangan ini aku lakukan dengan gaya berbeda dari yang lain, dan tentu saja dengan hati yang berbeda pula dari bisaanya. Hasil perenunganku tadi malam
Aku minta maaf, maaf setulusnya
Selalu menyalahkan, selalu mengujat, bahkan tanpa henti. Atas segala sesuatu yang terjadi padaku, sejak 8 tahun menjalani kehidupanku. Menampik semua yang seharusnya ku tangkap dan perjuangkan, menghindari semua yang seharusnya kulakukan dengan  yang sebaik mungkin, mencoba menguatkan diri sendiri dengan licik padahal sudah seharusnya aku merasa lemah dan bisa memahami bahwa orang tidak berbekal sepertiku harus berusaha lebih peka. Maaf… semua karena kesalahanku sendiri yang tidak aku sadari, seharusnya aku adalah protagonist, bukan orang yang berperan sebagai protagonist padahal antagonis sejati. Usia saat itu seharusnya sudah cukup untuk menyadari bahwa menyembunyikan sesuatu dengan iktikad buruk pasti akan tercium juga, itu akan kusadari seandainya jalan pikiranku memang normal. Bila tidak ada yang ditonjolkan, tidak akan ada yang peduli pada kita, begitulah… sehingga aku berusaha. Berusaha memenuhi  tuntutan, membuat semua orang berdecak padaku, bukan dengan berjuang menjadi tinggi, namun berjuang merendahkan yang lain.
Setelah semua terbongkar, cukuplah sudah semuanya. Bukan decakan lagi yang didapat namun malah mendapat cara baru menghabiskan waktu, dengan menghujat.
Maaf aku benar-benar tidak tahu, sudah kubilang pikiranku tidak berjalan dengan baik untuk menyadari yang selalu mencintaiku dan berusaha mengingatkanku, sehingga harus kuabaikan bahkan kusakiti.
Aku minta maaf, maaf setulusnya
Membiarkan seluruh indraku menutupi semuanya. Maaf selalu menganggapmu jahat hanya karena sering memukul adikku yang masih kecil, maaf selalu menganggapmu jahat hanya karena meninggalkanku sejak tiga bulan kehidupanku, maaf selalu menganggapmu jahat karena pendiam dan saat kau berkata-kata itu sangat menusuk. Maaf selalu menganggapmu jahat karena semua orang berkata begitu… maaf karena kita tidak saling kenal dan tidak berlaku selayaknya orang lain yang memliki hubungan yang sama.
Seandainya saat itu aku tidak menganggap bahwa istilah “surga di telapak kakimu” hanya bualan orang aneh saja, aku tidak akan menghancurkan hidupku sendiri dengan pilihan tanpa restumu.
Aku minta maaf setulusnya
Menyamakanmu dengan sesuatu yang kubenci hanya karena kau suka menuntut, tidak pernah memperhatikan keluh kesahku, selalu bersikap datar tanpa ekspresi saat aku dengan berapi-api menunjukkan hasil keringatku, mungkin tepatnya hasil usahaku merendahkan yang lain.  Maaf, kini selalu mengecewakanmu, tidak pernah memikirkan harapan-harapanmu yang selama ini tertuang padaku, selalu membuatmu malu, menyia-nyiakan keringatmu mencari rupiah demi rupiah untuk memenuhi semua kebutuhanku.
Dan sama, aku menganggapmu jahat karena meninggalkanku sejak tiga bulan kehidupanku, begitu kembali dengan segala macam tuntutanmu atas diriku, dan kini dengan semua pertengkaran yang kalian tunjukkan di depanku, membuatku menganggapmu semakin jahat, sekali lagi maaf.
Aku minta maaf, maaf setulusnya
Menganggapmu hanya sebagai pembual frustasi yang hanya ingin balas dendam karena dulu juga diperlakukan begitu. Maaf karna tidak tahu bahwa kau benar-benar mencintai pekerjanmu dan mencintai kami, bahkan berkilometer jauhnya mengayuh hanya untuk mendapat anggukan atau gelengan ogah-ogahan dari kami., eh bukan… terutama dariku. Asal tahu, sejak lembaga pertama yang mendidikku menganggapku sampah setelah menjunjungku tinggi, aku tidak pernah menaruh hasratku lagi pada lembaga semacam itu dan termasuk orang-orang di dalamnya, sehingga maaf bila kau menjadi korban kebencianku.
Membuang jauh apa yang kau sampaikan padahal kau berharap itu akan menjadi bekal, memberi kesempatan kedua yang ternyata kusiakan, memberi kepercayaan bahwa suatu saat aku akan berubah, tapi maaf mengecewakan. Pikiranku memang tidak berjalan dengan baik.
Maaf Setulusnya
Tidak pernah menganggap kalian benar-benar hidup, hanya kumpulan mesin terjejal yang dikendalikan sebuah remot dari jarak jauh. Selalu menghujat kalian di balik sikap yang kutunjukkan sebiasa mungkin. Bukan apa-apa hanya karena aku  tidak bisa seperti kalian yang saling berjuang sekuat mungkin untuk menggantungkan prestasi tertinggi. Bukan apa-apa hanya aku saja tidak pernah memahami atau mencoba memahami jalan pikiran kalian, karena kalian tahu kan… seperti yang selama ini kalian katakan padaku bahwa memang pikiranku ini tidak berjalan dengan baik. Aku tidak mau repot-repot untuk melahap kertas-kertas tebal itu, atau mengutak-atik angka-angka itu, aku juga  tidak mau bergabung dengan kalian yang belok ke arah ber rak-rak kumpulan kertas, aku ada dunia sendiri dengan berbagai macam piringan bulat yang membuatku meneteskan air mata setiap menjelang episode terakhir. Aku pernah menjalani itu dulu, maksudku seperti kalian… dan aku tidak mendapatkan apa-apa, hanya sedikit kepuasan saat semua orang berdecak melihat kita, tapi setelah itu….nihil.  
Jadi hasil perenunganku tadi malam, dengan referensi film-film serial yang pernah aku tonton, aku memutuskan….Peristiwa terdepaknya aku di antara kalian, karena aku tidak lagi bisa berjuang dan bersaing bersama kalian di kelas percepatan, aku akan jalani masa biasa saja, tiga tahun berseragam putih abu-abu. Sekarang aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa lagi, aku akan menerima semuanya karena memang ini yang harus aku terima, mungkin aku akan malu, atau dipandang tidak berguna, tapi sudahlah yang jelas aku berterima kasih
PadaMu yang selalu mencintaiku, selalu memaafkan dan memberi kesempatan untuk tidak terjatuh pada pikiran bodoh lebih dalam, memberi pencerahan dari pertemuanku dengannya. Pada Ibu  yang sebenarnya sangat menyayangiku aku berterima kasih, selama ini aku marah dan mungkin sedikit membenci  hanya karena aku sangat merindukanmu, dan atas segala tekanan yang kau … terima karena kondisi yang buruk membuatmu bersikap agak lain, untuk orang lain mungkin jahat, tapi dalam dirimu sebenarnya aku menemukan sosok ibu. Sekarang kau sudah membuang jauh sosok jahat itu, dan aku berharap selalu begitu…. menyayangi aku dan adik, serta baik pada ayah. Untuk ayah aku berterima kasih, di balik sikap datarmu sebenarnya kau sangat menghargaiku, dan menanam harapan yang tinggi karena kau percaya sebenarnya aku mampu, hanya saja mungkin kau tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa sayangmu itu. Aku sudah mengerti, aku yang salah menyikapi sehingga merasa selalu terbebani. Guru-guruku yang sabar dan selalu berusaha berbagi, kalian sangat memahami dan selalu memberikan yang terbaik untuk kami, kekakuan dan segala macam tugas yang diberikan mempunyai tujuan yang sangat mulia, terima kasih atas kesempatannya. Dan terakhir teman-temanku, sebenarnya kalian sangat baik, aku terlalu sensitive dan memikirkan luka sehingga menyangka kalian para pengejar prestasi yang tidak bisa memahami perasaan orang lain, dan hanya menghabiskan waktu dengan kegiatan membosankan, tapi sekali lagi kalian tidak salah, kalian sangat baik hanya saja mungkin sedikit membiarkan hati berbicara akan membuat kondisi lebih nyaman.
Sebelum perenungan itu, dengan suasana terburuk dan langkah tergontai memikirkan vonis dikeluarkannya aku dari kelas percepatan, tidak seburuk itu juga, memang aku sudah menduganya. Di tepi jalan itu gadis kecil yang sebaya adikku menggenggam bertangkai bunga, dia terpisah dari sang ibu. Air matanya mengering, aku bukan orang yang pandai bicara atau selayaknya kakak yang ramah, tapi aku ingin dia sedikit lupa kondisinya sebagai anak hilang
“Bunganya banyak sekali, untuk siapa?”
“Buat ayah, ibu, temen-temen… semua yang sayang sama Nika..”
“wah…. Pasti banyak sekali yang sayang sama Nika.”
Percakapan terhenti, aku tidak tahu apalagi yang harus aku katakan. Aku mengantarnya ke kantor polisi, bukan apa-apa tapi opsir itu seperti sudah mengenalnya dengan dengan  sangat baik
“Aduh…. Kali ini dengan siapa lagi…..?”
“Hehe… selamat siang Pak ….ini untuk Bapak.”
Nika, gadis kecil itu tinggal di panti asuhan sejak berumur dua tahun, ayah dan Ibu meninggal karena kecelakaan mobil saat akan berangkat kerja. Dia sendirian…. Ehm tidak juga, tapi dia kesepian, jadi setiap akhir pekan dia memetik banyak bunga, menunggu di tepi jalan jika ada orang yang mengantarnya ke kantor polisi, lalu ke makam orang tuanya. Dia selalu kuat, tidak pernah senyum manis itu lenyap dari bibir mungilnya, dia tidak memiliki hubungan darah atau semacamnya dengan orang lain, tapi selalu merasa semua orang menyayanginya.
Sedangkan aku…… tidak pernah tahu sebenarnya sayang itu apa, hanya tahu semua akan mau peduli padaku jika aku berprestasi…. Menghalalkan segala cara, akhirnya dibuang dan sia-sia. Masa lalu dan kurangnya perhatian membuatku menghujat semua orang, bahkan Penciptaku dan menjadi awal semua kehancuran hidupku, terutama sekolahku.
“Ini untuk kakak yang baik…… maaf merepotkan Kakak, terima kasih.”
Mulai sekarang aku buka hati, memandang dari segi yang baik. Maaf setulusnya…. Dan terima kasih

My Short Story: Satu Makna Kata Untuknya




“ Dia membenciku……,” sebenarnya aku tak ingin mengatakannya meski dalam hati, tapi apa yang aku rasakan selama ini sudah terasa berat. Apa yang menyebabkannya seperti itu ? semua terjadi begitu saja, aku tak berani menanyakannya, takut akan menambah beban hidupnya, lagi pula aku mencoba sabar karena itu memang kewajibanku. Tapi kenapa harus aku ? kenapa bukan orang lain yang ia benci ?
“ Dik, Adik lihat Dik Nia ?“ Ia memanggilku, berbeda sekali dengan caranya menyebut Nia, adik bungsuku yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar tahun ke tiga.
“ Tadi Dik Nia pamit ke warung Bu Siti, memangnya ada apa Bang Fahran mencari Dik Nia ?”
“Oh…Abang hanya menyuruh Dik Nia ke rumah Anang.”
“Cerpen Abang sudah selesai…..biar Naf saja yang mengantarkannya.”
“Tidak usah, Adik kan sedang sibuk. Biar Abang menunggu Dik Nia saja, mungkin sebentar lagi pulang.”
“Sudahlah Bang, biar Naf saja, biasanya kan Dik Nia main dulu dengan Fifi, pulangnya sore-sorean”
“………”
Abang menyerahkan kertas-kertas itu padaku, aku menunggu beberapa saat, namun frase itu tak ia ucapkan, aku beranjak pergi, dalam hati aku kecewa sudah kurelakan pekerjaanku tertunda, namun sekedar ucapan terima kasih pun tak ada. Tak apalah mungkin nanti, besok atau kapan-kapan, aku akan menunggunya…. Sebenarnya aku heran pada Bang Fahran, mengapa ia lebih memilih Anang sebagai pembaca pertama setiap tulisannya, bukan aku,..adiknya sendiri. Biar, seiring waktu pasti aku akan tahu apa penyebabnya.
***
Malam yang dingin, jalanan yang sepi, tanah-tanah yang lembab, dan bulan yang bersembunyi. Tepat pukul 19.30 aku membuka gerendel gerbang depan rumah. Dengan baju setengah basah, aku menahan udara yang menusuk tulang,
“Assalam mu Alaikum……”
“Wa’alaikum Salam, tunggu sebentar!”kudengar Ibu menyahut. Tak seberapa lama, pintu depan terbuka.
“Nafisa,…Ya Allah, kamu kenapa terlambat pulang ?Ayo cepat masuk, baju mu juga basah, kenapa tidak bawa payung?”
“Pekerjaanku menumpuk Bu, malah niatnya mau lembur, Bang Fahran sama Dik Nia mana Bu?.”
“Abangmu sedang menulis, Nia malah sudah tidur. Cepat kamu keringkan badanmu! biar Ibu siapkan air panas.”
“Ya Bu..”
Setelah mandi dan merasa nyaman, aku kembali ke ruang tamu, ada Ibu dan Abang sedang bercakap-cakap.
“ Naf, ayo kemari, Ibu sudah membuatkanmu teh hangat.”
“Terima kasih ya Bu.”
“Naf, kamu itu kalau bekerja jangan terlalu dipaksakan, jaga kondisi badan kamu juga!”
“Yah…semua itu kan usaha Bu, Naf benar-benar ingin kuliah.”
Abang hanya diam, aku melihat ada yang aneh di wajahnya, ia tampak datar, namun seperti ada yang dipaksakan. Tak ada tanda-tanda Ia akan menunjukkan perasaan iba atau simpati padaku, biarlah….mungkin nanti, besok, atau kapan-kapan.
***
Pekerjaan yang menumpuk, aku lelah. Berjam-jam aku menghadapi computer lawas ini, namun ada saja laporan-laporan yang tak kumengerti. Aku mencoba memfokuskan perhatianku, mencoba konsentrasi, namun tak bisa, aku menyerah, aku merasa suntuk. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan sedikit pendapatan. Aku mencoba meniti karir dari dasar, setapak demi setapak, dan sampai menjadi seperti ini, semua untuk satu harapan, melanjutkan kuliah. Sekarang tinggal menanti waktu saja……
Aku beranjak menuju jendela, yah….sekedar menjernihkan pikiran, aku suntuk. Aku ingin melihat-lihat taman bunga. Bunga-bunga itu sedang bersuka-cita, mendapat perhatian dari seorang lelaki yang lembut dan baik hati, seandainya akulah yang menjadi bunga itu,….dan itu tak mungkin. Meski memiliki kelemahan dalam system geraknya, Abang tak pernah mau tinggal diam, di sela-sela kesibukannya menulis, Ia menyempatkan diri berkebun. Tak heran, bila Abang tak pernah kehilangan ide untuk menulis, berjuta inspirasi di sela-sela pesona ia dapatkan di sana. Dan di antara untaian pesona itu, ada satu bunga yang sangat Ia jaga, sangat Ia pelihara, bahkan sampai layu pun tak ada yang boleh menyentuhnya, katanya ingin dipersembahkan kepada orang terkasih. Insan yang menerima cinta terindah dari hatinya, insan yang mencerminkan bunga…..White Moon Orchid.
Dari jendela kulihat Abang berusaha menjangkau setangkai mawar putih mungkin ingin Ia persembah kan untuk Ibu, begitulah kebiasaan Abangku setiap pagi. Kami bertemu pandang, aku mencoba melayangkan seberkas senyum untuknya, tapi Ia diam, datar. Lagi-lagi aku kecewa.
Lalu kulihat Nia menghampirinya, memberikan gunting, spontan, tanpa ditunggu, frase yang sangat kudamba meluncur, “Terima kasih.”senyum pun ia persembahkan semanis mungkin, tapi bukan untukku. Aku hanya bisa menghela nafas.
***
Sudah kucoba menuangkan segenap perasaanku, berusaha keras mencurahkan ide-ideku, selalu saja gagal. Aku ingin seperti Abang, menjadi penulis yang handal, hasil karyanya dimuat di manap-mana, setiap kali aku mencoba menulis, hasilnya aku serahkan pada Abang untuk direvisi, tapi setiap kali pula de ujung bawah ada tambahan…”Kurang satu kata”…aku koreksi lagi, di benakku karya itu sudah sempurna, aku menanyakannya pada Abang, namun Ia selalu diam.
Ini sekian kalinya aku menyetorkan tulisanku pada Abang, Ia membacanya sekilas, dan tanpa belas kasihan atau sedikit penghargaan, Ia ambil pena merah, dengan mantap Ia tuliskan kalimat itu lagi. Lalu kertas ia serahkan padaku, tanpa kata, tanpa ekspresi, dan beranjak pergi.
Aku ingin marah….aku ingin mrnangis…tapi sudahlah.
***
Aku melirik kembali saldo tabunganku, berkali-kali aku bersyukur, Tuhan selalu menjawab dan mengabulkan do’a hambanya yang berusaha. Aku melirik foto almarhum ayah, gagah, tegap, dan sabar. Ia berpesan agar aku menjaga ibu, abang, dan Nia. Tiba-tiba aku teringat pada ibu, beberapa hari ini wajahnya tampak murung, entah mengapa…saat aku sedang berfikir, Beliau memanggilku.
“ Naf……, Nafisa…..”
“Iya Bu……”
“Kemarilah Nak !”
“ Ada apa Bu? Sepertinya ada hal yang mendesak ?”
“Duduklah Nak, Ibu ingin berbicara hal yang serius Nak.”
“Tentang apa Bu?”
“ Tentang Abangmu.”
“Memangnya ada apa dengan Abang Bu? Apa terjadi sesuatu padanya?”
“Sebenarnya……..ah…Ibu minta maaf bila selalu menghalangi semua cita-citamu, Ibu ……..hanya ingin semua anak Ibu bahagia. Tapi ….”
“Ada apa Bu? Sudah menjadi hal yang semestinya seorang anak berbakti pada orang tua, apalagi untuk Ibunya, katakanlah Bu………”
“Ini bukan persoalan mudah Nak, ini…berkaitan denga cita-cita dan harapanmu………”
“Maksud Ibu?”
“Abangmu…… ingin sekali dapat berjalan. Kami mendengar dari Pak Haji Ifham, putranya yang lumpuh sejak lahir bisa disembuhkan dengan pengobatan di luar negeri.”
“…………”
“Pak Haji bersedia mengantar Abangmu, namun biaya pengobatannya tidak sedikit. Sawah peninggalan Ayahmu saja masih belum memenuhi biaya pengobatan itu……sehingga…..”
“Ibu memintaku untuk merelakan uang yang susah payah ku kumpulkan untuk kuliah?” aku memotong kata-kata Ibu, kuucapkan kata-kata yang membuat mata dan hatiku basah. Aku harus merelakan harapanku untuk seseorang yang aku tahu, Ia sangat membenciku, acuh terhadapku, dan tak pernah mau menyebut namaku…..Oh Tuhan….
“Nak, sejak lahir Abangmu sudah menderita, Ia hanya bisa iri dengan teman-temannya, hanya bisa menangis….kini ketika ada sebatang lilin dalam hidupnya, maukah kau memercikkan api agar menjadi terang?”
“Tap….Tapi Bu…..”ini keputusan yang sangat berat, aku sedang berusaha menahan gemuruh hati yang menandakan adanya peperangan. Harapan atau kewajiban……
“Ibu mengerti ini sangatlah berat, namun Ibu mohon………..”Ibu menangis, aku telantarkan amanat ayah, aku anak durhaka, dan sebelum lebih jauh lagi…………..
“Baiklah Bu, Naf ikhlaskan” aku masuk ke kamar, menahan aliran air yang tak terbendung di pelupuk. Kewajibanlah yang menang.
Malamnya aku tak keluar kamar, sayup-sayup ku dengar Ibu dan Abang sedang bercakap-cakap, mungkin membicarakan keberangkatannya. Semoga saja setelah Ia tahu, sikapnya akan berubah terhadapku, tak membenciku lagi. Semoga…
***
Esok aku membuka mata dengan berat, aku menuju jendela, menyibakkan tirai, kemudian menghirup udara pagi yang segar. Kembali kulihat Abang yang sedang menyiram bunga dibantu Nia. Aku berusaha melayangkan senyum, hendak mengetahui perubahan sikapnya, Ia menatapku sebentar, lalu menyibukkan diri dengan Nia. Aku menyesal…..sesal dengan penuh sesal, untuk apa aku mengorbankan harapanku yang sudah lama kupendam, hanya untuk orang yang semakin membenciku….
Saat Ia masuk, aku bergegas menemuinya. Aku kendalikan hatiku untuk tidak meluapkan apa yang kurasakan selama ini.
“Bang,…..”
“………”
“Bang Fahran, Naf ingin bicara sebentar.”
“Bicaralah.”
“Kapan Abang akan berangkat ke luar negeri?”
“Bulan depan, memangnya kenapa ?”sahutnya dingin.
Hh…apa tidak terbesit sedikitpun di hatinya, untuk ……Hh…….Ya Allah bagaimana aku harus menghadapinya, mengapa seperti ini, mungkin ini saatnya aku meluruskan duduk perkaranya.…melihatku terdiam, Ia beranjak pergi.
“Bang, tunggu !!…Abang benci ya sama Naf ?”
“Maksudmu?”Bang Fahran mulai bimbang.
“Iya..Abang benci kan sama Naf ?Abang tidak suka kalau Naf ingin melakukan sesuatu untuk Abang. Yang Abang sayang cuma Ibu, Dik Nia, dan bunga-bunga itu saja, tapi dengan Naf, Abang berusaha menganggap angin lalu.”
“Dik………..”
“Bang, jangan menghukum Naf seperti itu,..Abang seharusnya bilang, kalau Naf memang punya salah atau sikap Naf yang kurang berkenan,…Abang jangan langsung bersikap dingin begitu……”
“Adik……”
“Begitu besarkah rasa benci Abang sampai menyebut nama adik sendiri saja tak mau, begitu membelenggukah sampai kata terima kasih dan sedikit perhatian pun tak bisa Abang curahkan ?”
“Dik….”
“Abang bisa mengerti perasaan Naf..?”
“Adik, mungkin memang Abang yang salah, tapi ini semua demi Adik, Abang pikir Adik sudah cukup mengerti dengan sikap Abang, sehingga tidak akan jadi begini……..”
“Apa maksud Abang?”Aku bertambah gundah, namun aku lega, kata-katanya mulai lunak…
“Selama ini Adik memang begitu baik, Adik selalu membantu Abang, Adik selalu berbakti pada Abang, Adik tak pernah menyakiti hati Abang, Adik tak pernah menyusahkan orang lain……..”
“Lalu kenapa Abang membenci Naf ?”
“Adik…..Adik bisa dibilang peri yang sempurna, kebersihan dan kebaikan hati Adik mencerminkan keindahan, tapi satu yang belum Abang temukan dalam keindahan itu,………Tulus.”Abang meninggalkan aku dalam galau yang memuncak, sedih, temaram, luluh, dan hilang…..
Aku merenungi segala yang ia ucapkan…..Aku galang iman dan kekuatan hatiku….sampai….kata Tulus. Kini aku mengerti, apa yang Dik Nia berikan, apa yang mereka curahkan dan yang tak kumiliki, selama ini aku hanya menanti harapan untuk kembalinya apa yang kuberikan, selama ini aku hanya berfikir tentang kewajiban, segala yang aku persembahkan untuk Abang dan orang-orang yang aku sayang, seberapapun itu, pasti akan terasa hambar. Tanpa adanya satu kata yang menjadi makna..
Sikap Abang yang dingin dan datar yang dipaksakan merupakan ungkapan ketulusan yang tertutup, Ia tulus menyayangiku, dan ingin aku sadar akan segenap pola pikirku. Kini akan kucurah isi hatiku dalam untaian kata, yang akan kupersembahkan kepada Abang, aku persembahkan makna kata yang ia nanati selama ini, aku persembahkan kata yang hilang dari setiap karyaku, satu makna kata ….Tulus……….untuk Abang..
***
Di atas meja berdebu, di samping monitor lawas, di hadapan foto Ayah……selembar kertas dengan tulisan apa adanya, ungkapan jujur dari lubuk hati seorang gadis, rapi dan bersih, tinta merah yang selalu menghiasi tak tampak, digantikan….sekuntum White Moon Orchids.

My Short Story : Pelita Cinta Terbias Seirama





“Cobalah saling melengkapi…”. Itu pesan ibu yang terakhir, sebelum beliau menuju taman indah itu, dan tak berniat menapakkan kakinya lagi, menemani kami. Tapi bagaimana bisa ? Apa yang kumiliki, ia pasti punya, segala yang kubisa, dia pasti sanggup, apa yang dapat kuraih, dia pasti mampu meraihnya…terkadang memang menyenangkan, tapi sering menyebalkan. Memang sewajarnya, orang yang terlahir bersama memiliki kesamaan, orang-orang yang memandang pasti kagum, tapi pihak yang dipandang, entahlah…Untuk sekilas, tak ada yang bisa menganalisis siapa kakak dan adik, yang jelas dilihat mendetail pun tak ada yang bisa memungkiri bahwa kami memang identik.
Muhammad Arham Syahfariz, berwibawa, manis, kocak, baik dan berbakat. Semua orang mencintainya, segan, dan bangga, namun satu yang mulai merasa tak nyaman di dekatnya, yang serupa dengannya, kerap menyisakan kerak di hatinya, bukan orang lain, hanya makhluk yang pernah menjadi bagian darinya, pernah menyatu dengannya, Muhammad Arfan Hanafi…kurang lebih memiliki karakter sepertinya.
Pendiam bukanlah tabiatku, agaknya ia tahu…atau mungkin malah merasakan, muncul 3 pilihan di benakku, pertama mencurahkan isi hatiku padanya, kedua mengadakan rapat dadakan malam sabtu, dan menuliskan masalah ini pada agenda utamanya, terakhir membiarkan rasa dan karsaku lenyap tergerus pikiran bodoh ini. satu….terlalu jujur dan terbuka, dua…merepotkan pihak yang sudah lelah mengurus masalah lain yang justru lebih penting, tiga…untuk apa menyiksa diri. Lima, Empat, Tiga…Satu……DUA, aku pilih yang kedua, lebih efektif dan efisien, sedikit merugikan pihak lain, namun meminimaliskan efek samping. OK.
Agaknya ia mulai curiga melihat lirikanku yang aneh, senyumanku yang penuh arti hitam, dan gelagatku yang menjengkelkan. Tak tahan ia bertanya
“ Dik, aneh sekali kau hari ini…….”
“ Perhatian sekali Kakak, eh…”
“Hm…, apa?”
“ Malam Sabtu ada rapat dadakan, ada masalah genting.”
“Siapa yang putuskan? Apa topiknya?”
“Ya aku lah. Wajib datang !!”
***
Sungguh tak biasa, bintangku tak muncul menghiasi dunia lebar di atas sana, padahal hanya dia yang kuandalkan, apa mungkin ia jenuh, atau merasa lemah, hingga pijarnya tak lagi bisa menembus kepulan asap yang menyesakkan baginya, atau bagiku, mungkin juga bagi kakak. Paman mendatangi bapak lagi, tak pernah bosan, tujuannya memang mulia, aku salut. Paman Iqbal memang perhatian, ia tak mau hanya ia yang menapak di jalan halus yang penuh kehidupan itu, ia ingin mengajak kami bertiga. Yakin bahwa bapak akan berhasil di kota sana, yakin akan kehidupan kami yang akan membaik. Dan lagi, bintang itu meredup saat kubuka mataku, bapak menolaknya dengan alasan berdasar cinta, cinta akan tanah kelahiran, cinta pada ibu dan segala indah kenangan, sekali lagi paman tak menyerah.
Aku ingin menegur bapak namun tak sampai, memandang keras perjuangannya, menilai tulus cintanya, merasakan sejuk kasihnya, yang bisa kulakukan hanya…
“ Paman datang lagi Pak?”
“ Ya, sungguh bulat tekadnya itu, Bapak jadi tak enak.”
“Kenapa Bapak selalu menolak paman?”
“Kamu kan sudah tahu jawabannya Fan, itu alasan yang kuat.”
“ Tapi kita bisa lebih baik kalau ikut paman.”
“ Secara materi mungkin, tapi secara nurani, Bapak tak yakin.”
“ Baiklah.”
Aku sendiri yang menutup tukar kata yang ringkas namun berkesan itu, diam jadi pilihan utama, tak ada yang bisa dikatakan dari seorang anak yang yakin akan cinta orang yang ia cintai, yang mampu menutup rasa sesal itu. Sesal yang membuat hidup kami terkadang terasa berat padahal ada yang bisa meringankan.
***
Tiga kursi tertata sedemikian rupa, bohlam 5 watt di tengah ruangan melancarkan jalannya rapat dadakan, sinar bulan yang menembus dinding transparan berbingkai kayu itu menambah nyaman. Agenda pertama, ini saatnya, aku membuka mulut, semua mata tertuju padaku. Kuutarakan masalahku. Kumulai dengan sikap dan perhatian orang-orang pada kakak dan aku, respons mereka terhadap keidentikan kami, rasa acuhku yang tak bisa kupertahankan, dan rasa jenuh karena selalu dibanding-bandingkan, terakhir dengan pesan ibu yang terakhir itu.. Kakak juga merasakan hal yang sama denganku, hanya saja ia lebih pandai menyembunyikannya. Tinggal respons bapak yang kutunggu.
“ Bapak mengerti, tapi cukuplah kalian seperti sekarang, tak usah neko-neko, biar hidup berjalan dengan lancar.”
“Bagaimana bisa Pak? Kami sudah cukup bersabar menghadapi orang-orang itu, tetap saja kami merasa tak nyaman kalau begini terus,”giliran kakak yang angkat bicara.
“Kembar memang kembar, tapi tak harus disamakan seperti ini.”
“lalu apa yang akan kalian lakukan?mengubah diri kalian agar terlihat berbeda, walaupun sampai menghilangkan jati diri kalian?”
“ Bagaimana lagi Pak?”
“Ah… kalian kan sudah dewasa, setiap orang punya jalan pikiran tersendiri, termasuk orang yang terlahir identik.”
“Aku tak mengerti Pak?”
“Ya sudah …tunggu sampai waktunya tiba.”
Sampai jam 10 malam, rapat bubar, aku dan kakak masih bingung pada jawaban Bapak, aku tak mengerti sama sekali, harus menunggu waktu yang tepat, kapan waktu itu tiba? Apa yang harus kulakukan sampai waktu itu tiba? Ah…berat sekali…
“Dik, apa yang kau pikirkan?”
“Memangnya apa menurut Kakak?”
“Pasti nasihat bapak kan?”
“Hm… Kakak mengerti?”
“ Entahlah,..tapi suatu saat kita akan mengerti.”
“Kakak kan yang lebih tua, seharusnya tahu lebih banyak.”
“Hei, Kakak Cuma lahir 5 menit lebih dulu darimu…”
“Ya…eh..Kak, kenapa ya kita bisa sama?”
“Tanya saja pada dirimu sendiri! Kenapa kita tidak berbeda?”
“Bisakah kita buat diri kita berbeda, untuk saling melengkapi ?”
“Maksudmu?”
“Yah…mengubah diri kita agar tidak banyak kesamaan.”
“Tentu saja bisa, tapi kau dengar bapak melarang kita tadi?”
“Sedikit berubah tak apa, lagipula ini kan demi amanat ibu?”
“Bagaimana ya…”
“Apa Kakak masih bisa tahan kalau kita dibanding-bandingkan lagi? Apa Kakak belum bosan?”
“Entahlah…..”
“Ah…kata itu lagi, Kakak ini harusnya tegas, kita sudah dewasa, sudah hampir meninggalkan pakaian putih abu-abu itu, kita harus bisa bertindak, ga’ Cuma menunggu waktu..”
“Hm…”
“Tanggapan macam apa itu, dimana wibawa Kakak?”
Aku mulai marah, kesal karena dianggap remeh oleh kakak, kesal karena ia tak mau membantuku.
“Ya…Ok.”
“Apa maksud Kakak?”
“Ya…Okelah.”
***
Kami benar-benar melakukannya. Sedikit tak nyaman memang, tapi mungkin saja bisa berakibat baik bagi perasaan kami. Seruling bambu itu, sudah tua, makin halus karena sering disentuh, tapi mulai usang, debu-debu tak segan lagi untuk menempel, atau mungkin malah sudah menutup fentilasinya, tapi tetap kami simpan di tempat yang menurut kami cukup terhormat, disamping foto ibu, di lemari bagian atas.
Hadiah ulang tahun dari bapak untuk kami berdua di ulang tahun yang ketujuh, entah bisa dibilang ulang tahun atau bukan, bapak dan ibu lupa mencatat tanggal kelahiran kami, ah…bukan lupa, tapi memang waktu kami lahir belum banyak orang menggunakan kalender di desa terpencil ini, waktu hanya berdasarkan posisi bulan, bagaimana dengan akte? Bapak hanya asal, menurut apa yang diberi tahu paman, tapi sama sekali Bapak tak memperhatikan deretan angka itu, baginya alamlah yang menjadi tanda, bukan hitungan yang dipikirkan manusia dan inilah maknanya, kami lahir tepat bulan separuh yang terapit gugusan- gugusan bintang membentuk sungai langit, panjang, terang, menuju lembah cahaya…indahnya saat itu, mewah sekali iringan-iringan yang merayakan kelahiran kami, sambutan alam yang takkan bisa terlupakan. Setahun menjelang, saat panorama itu terlukis lagi di langit, selesailah seruling bambu itu, kokoh dan eksotik, walaupun polos tanpa hiasan, satu untuk berdua.
Saat kecil, aku dan Kakak memainkannya secara bergantian, menirukan setiap rangkaian nada yang singgah di indra pendengar kami, semakin sering nada-nada itu menjadi bagian dari hidup kami, nada-nada lembut, klasik, tak berlebihan. Itulah aliran musik kami, aliran baru yang kami sepakati, jazzy slow pop.
Berdasarkan hasil diskusi singkat dengan kakak tadi malam, kakak membagi pola kebiasaan-kebiasaan kami, bagian mana yang harus mengalami perubahan. Salah satunya adalah aliran ini…
“Bukankah aku yang mencetuskan aliran itu ?”
“Tapi yang mengajari Adik musik-musik itu kan Kakak.”
“Tetap tidak bisa, aku yang berperan membuat sejarah aliran itu, aku yang rajin meraba-raba musik-musik yang Kakak gemari itu…”
“Tetap saja Kakak yang berperan utama memperjuangkan aliran itu Kakak, Kakaklah pemimpinnya.”
“Aliran yang beranggotakan dua orang tak perlu pemimpin, lagi pula ada apa dengan aliran ini sampai Kakak harus memperjuangkannya?”
“ Tapi tetap saja Kakak yang berhak bertahan, Kau…ganti!”
“Jangan seenaknya begitu, walaupun Kakak melarangku, aku tak mau ganti aliran, mengerti?”
“Tapi…”
“Titik habis.”
“Hei…”
“Stop”
“Baik, aliran ini pengecualian…”
“Bijaksana, …”
Dan begitulah, kami tak pernah mencapai kesatuan, setiap hal yang Kakak pilih, berat kutinggalkan, setiap hal yang kupilih, Kakak tak mau menurutinya, setiap hal…aku menyerah…Kami mainkan seruling itu bergantian, irama lagu…sendu, bimbang, hilang…
***
Suara berderit gerendel pintu tua yang mulai lapuk itu, merusak lamunanku, aku tersadar, mendengar suara lain yang mulai membuatku terbiasa, hembusan nafas yang sesak, tertahan pahitnya hidup, udara sulit ia hirup dan hembuskan, Bapak terserang astma, akhir-akhir ini ia paksakan bekerja larut, tanggal tua, order almari sepi, terpaksa bapak merangkap sebagai buruh tani.
Aku menegur Bapak, seandainya kami pindah ke kota, pasti tidak akan kesulitan kalau hanya sekedar menghilangkan penyakit penambah penderitaan. Seperti biasa, Bapak bersikap tenang, jawabannya masih sama, cinta. Bapak adalah orang desa asli yang terkesan idealis dan polos, namun beliau sangat menghargai arti sebuah anugerah, dalam nurani, beliau selalu berfikiran matang, tuturnya dalam, kata-katanya mengena.
Bapak mencoba menabahkan kami, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu pada bapak, tentang nasihatnya pada rapat lalu.
“Sudah Bapak bilang, tak usah neko-neko , sudah berapa lama kalian mencari perbedaan seperti yang kalian pikirkan itu?apa hasilnya? Tak ada bukan? Tunggu saja kalian pasti menemukannya, kalian memang harus ikhtiyar, tapi masih banyak hal lain yang lebih berarti yang harus kalian sentuh…”
Bapak benar, banyak waktu yang tersita untuk menunaikan niat mencari perbedaan, padahal hasilnya nol. Aku baru sadar, aku dan kakak  kurang memperhatikan bapak, kami tak lagi menjaganya, membantu pekerjaannya, atau sekedar menemaninya minum teh hangat, kini saat bapak sakit, aku malah membiasakan diri akan suara-suara yang keluar sebagai tanda derita yang kian bertambah,…Sudahlah aku hentikan niatku itu. Niat yang menjauhkanku pada orang yang sangat kusayangi, aku terlalu egois, aku salah langkah, seharusnya aku dengarkan bapak yang menyuruh kami menunggu, tak kan mungkin ada orang yang memiliki jalan pikiran dan kepribadian yang sama, atau minimal cara menafsirkan hal yang dirasakan setiap orang pasti berbeda. Aku salah langkah, tak heran bintang itu redup, tak heran sungai langit kian dangkal, mereka kecawa telah merayakan kelahiranku…
“Maafkan kami Pak.”
“Apa yang kau katakan? Tak ada yang perlu dimaafkan, bapak hanya orang desa, bapak tak tahu apa-apa tentang keadaan di luar sana, bapak tak mengerti hidup anak-anak seusia kalian, bapak tak pernah sekolah, yang bapak tahu hanya…bapak ingin kalian tak seperti bapak yang tak tahu apa-apa, bapak ingin setiap waktu kalian berarti.”
“Pak, kami salah langkah, kami terlalu memikirkan perasaan kami sendiri.”
“Biarlah, sungguh merupakan anugerah mempunyai putra serupa, bapak ingin kalian menerima diri kalian apa adanya, dan menerima cinta tulus dari orang-orang di sekitar kalian. Hm…mengerti?”
“Ya, kami mengerti. Tapi apakah semua orang mencintai kami seperti Bapak?”
“Menurutmu, apa itu mencintai?”
Kami tak tahu, Bagi kami segala yang bapak curahkan adalah cinta, segalanya…dan kami yakin bapak mencintai kami, tapi apa itu mencintai?
***
Kufikirkan hal ini kapan saja dan dimana saja, aneh memang, tak bisa mendefinisikan sesuatu yang kita rasakan, padahal sesuatu itu begitu jelas, nyata, dan dekat. Lagi-lagi aku mengulangi kebiasaanku, melamun memikirkan hal-hal yang mengganjal perasaan dan tak lalai menikmati secangkir teh jahe ditemani bulan purnama. Di bawah pohon kelengkeng aku duduk dengan nyaman, semilir angin tak mampu mengusik kegiatanku, tapi salam dari Paman Iqbal mampu.
Setiap kali paman datang, kakaklah yang selalu menyambut paling ramah, namun tak pernah kulihat kakak membahas tolakan bapak yang kesekian kali pada ajakan bahagia paman. Ini juga menjadi salah satu hal yang tak kumengerti, aku ingin menanyakannya, tapi tak pernah sempat, akhirnya aku tanyakan saja pada bapak. Ternyata benar, kakak tak pernah menyinggung hal itu, ia memilih diam, aku sayangkan sikap kakak yang kurang bijaksana kali ini. bukankah pindah ke kota akan membawa kebaikan. bukankah itu yang harus kita berikan pada orang yang kita cinta dan oh…aku mengerti, apa itu mencintai?mencintai adalah memberikan yang terbaik untuk yang tercinta.
Aku meneguk teh jahe kesukaanku penuh perasaan, aku ingin menikmati sensasi tetesan terakhir dari gelas usang ini, kulihat pemandangan seperti biasa, paman keluar dengan wajah muram sudah kuduga jawaban bapak, TIDAK. Lagi-lagi aku mulai terbiasa, aku masuk ke dalam memberi tahu bapak kalau aku sudah menemukan jawabannya.
Bapak mengulaskan senyum gembira, ada yang aneh…
“Mengapa Bapak tersenyum?”
“Pamanmu, ini yang terakhir ia membujuk bapak, mungkin sudah mulai lelah, tapi bapak kasihan juga.”
Kakak muncul dari balik tirai
“Paman itu sungguh baik ya…?”
“Benar, mulia sekali.”
Aku bingung,”Lalu mengapa Bapak berkali-kali menolak Paman dengan alasan yang sama?”
“Karena ada yang jauh lebih berharga dari itu semua.”
“Sudahlah Fan, itu sudah keputusan Bapak.”
“Kakak ini bagaimana? Apa Kakak tak mengerti perubahan yang akan terjadi pada hidup kita kalau pindah ke kota, pasti akan jauh lebih baik.”
“Kakak mengerti, tapi apa artinya semua itu kalau Bapak tidak bahagia?tak hanya materi yang membuat indah di dunia ini.”
“Bukankah kita selalu bersama?kita pasti akan bahagia kalau kita melakukan yang terbaik dalam hidup.”
“Kebahagiaan itu tak dapat diukur dengan besaran apapun”, termasuk kata terbaik.”
“Cukup. Apa kalian berdua menyayangi Bapak?”
“Tentu saja, sangat.”
“Tak perlu diragukan lagi, memang ada apa Pak”
“Itulah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kalian.”
“Maksud Bapak?”
“ Kalian telah dewasa, kalian telah menemukan perbedaan jalan pikiran masing-masing tentang arti cinta, tentang cara mencintai, dengan memberikan yang terbaik atau membuat yang tercinta bahagia, satukanlah keduanya, dan kau telah penuhi pinta ibundamu.”
***
Merdunya seruling bambu yang semakin halus, debu tak lagi menyumbat lubang-lubang udara yang menjadi sumber suatu ketentraman, menyambut dan merayakan lukisan alam yang terulang tepat yang ke tujuh belas kalinya, sungai langit mengalir menuju lembah cahaya, membawa pesan dari kami untuk membalas pesan terdahulu, kami telah saling melengkapi, melalui arti cinta yang kami yakini.

My Strange Short Story:LIVE BEHIND THE SWORD





Terkadang aku sungguh ingin membanggakan diriku, terbuat dari besi pilihan dari sebuah gunung yang tidak banyak diketahui orang, mataku tajam dan mengerikan, goresanku sangat halus namun menyakitkan. Aku dibuat dengan penuh ketulusan, sebagai hadiah dari seorang pemuda pada paman yang sering mengajaknya berlayar. Sebagai tanda kasih sayang yang tak terbendung, aku sungguh beruntung… sampai detik ini.
Ahn Mun Gi selalu memandangku dengan takjub, seakan hanya aku satu-satunya mahakarya, namun itulah sumber dari segala kutukanku pada diri sendiri, dia tidak memperhatikan bajunya yang terlalu longgar, sebagian lengan terbakar saat memberikan ulasan terakhir sebagai gagangku. Karena terkejut ia jatuhkan si mahakarya, gagangku cacat, namun entah mengapa aku tak menyadari apa yang akan terjadi kemudian. Paman Kim Mun Jae memanggilnya dengan terburu-buru, tanpa pikir panjang dia meletakkanku. Saat ini kesombonganku belum luntur, walapun gagangku tak sempurna, aku masih mempunyai mata tertajam dan goresan terhalus.
Mun Gi masuk dengan tergesa-gesa, ia sudah berganti pakaian dan senyum tak lepas dari wajahnya. Tanpa basa-basi ia menyambarku, memasukkan dalam kotak yang sudah dipersiapkan sebagus mungkin.
“Aah…. Celaka, tanganku.”
Belum apa-apa, bukan pengabdian yang kuberikan, aku sudah melukainya
“Mun Gi, sedang apa kau, cepat bergegas.”
”Sebentar Paman….. Hei ternyata kau lebih tajam dari yang kukira, Pamanku pasti senang. Tapi ah… sakit sekali..”
”Mun Gi………………..”
”Iya Paman. Aduh untuk mengangkat kotak saja sakit sekali.”
###
Dia meletakkanku di kotak yang sangat indah, lihat betapa berharganya aku. Namun mengapa guncangan semakin keras, apa yang sedang terjadi di luar sana. Hanya pikiran konyol, semua pasti akan baik-baik saja, aku akan mengabdi pada tuan yang tepat dan Mun Gi tidak akan pernah menyesal telah membuatku.
”Paman, kenapa langit tiba-tiba gelap….”
”Beginilah seharusnya berlayar, penuh tantangan….”
”Tapi……..air mulai naik paman.”
”Benarkah?? Mun Gi lihat jauh ke depan, banyak karang di sekitar sini, tarik layar kuat-kuat……”
”Aku tidak bisa Paman, hujannya lebat sekali.”
”Mun Gi cepat tarik layarnya… ada karang di depan.”
”Pamaaan…..Ahh… tanganku terluka,Paman tolong bantu”
”Berjuanglah Mun Gi…….”
”Sakit sekali, aku tidak kuat paman……..”
”Mun Gi……”
Terlambat, kapal menabrak karang, dan itulah teriakan terakhir yang menghancurkan semua harapanku. Luka dariku akan menjadi seperti ini, ahh apakah aku lahir dengan kutukan?? Apakah sebenarnya aku memang bukan Mahakarya? Atau aku hanya hasil yang cacat yang mencelakakan penciptanya sendiri. Entahlah, sekarang siapa yang akan menjadi tuanku, atau aku hanya akan tenggelam dan menjadi penghuni dasar lautan.
###
”kapten, sepertinya ada kapal yang baru karam…..”
”Coba lihat mungkin ada yang berharga…”
”Baik….”
”Hei coba ambil kotak itu, kelihatannya menarik.”
”Isinya…. pedang. ”
”Hah, pedang cacat seperti itu, sama sekali tidak berguna.”
” tapi lihat kapten, sangat halus dan tajam, sayang kalau dibuang. ”
”Lalu mau diapakan…..”
”Ambil saja kalau kau mau.”
Hujatan, hujatan dan hujatan. Aku kira aku sungguh mahakarya, tapi ternyata hanya pedang cacat yang sering melukai tuannya sendiri. Sekarang mana berani aku bermimpi tentang apa yang akan terjadi, semua sungguh diluar kemampuan, bahkan mungkin untuk sekedar berharap saja tak pantas.
Seiring waktu aku berusaha memahami tuanku, yang kulihat hanya laut dan darah, mereka membajak kapal-kapal pedagang dan bangsawan, menumpahkan darah di setiap kapal, merenggut semua barang berharga. Dan inilah takdirku, dipaksa melakukan tugas mengerikan dan setelah selesai apa yang kudapat, makian dan hujatan. Ini lebih buruk daripada menjadi penghuni dasar laut, yang setidaknya aku bisa bermanfaat sebagai sarang terumbu karang.
Aku melihat kapal yang paling indah, aku merasa takjub dan sedih, sebentar lagi gemerlap kapal itu akan sirna diganti teriakan dan berliter darah. Meski tak pantas aku ingin terus berharap nasibku akan berubah. Pembajakan segera dimulai, ternyata itu adalah kapal Raja yang agung, dengan beringas mereka membunuh setiap pengawal, jumlah yang seimbang membuat pertarungan kian sengit, apalagi baginda disertai beberapa orang dengan keterampilan pedang memukau, seandainya salah satu mereka adalah tuanku. Ah pikiran konyol, mana mungkin ada yang mau.
Aku tertancap di dasar tiang layar, sungguh aku merasa lega, dua belas nyawa sudah melayang karenaku, cukup semoga itu yang terakhir. Tiba-tiba seorang pria setengah baya terdorong ke arahku, dia berusaha meraba sesuatu, sambil menghindari tebasan hiruk pikuk kapten bajak laut. Tidak lama ia bisa menghindar, pedang berjarak lima senti dari perutnya, kontan dia menyambarku, satu jantung lagi kutikam, lengkap sudah tiga belas nyawa. Melihat sang kapten rubuh, awak kapal terpojok,
”Jatuhkan senjata kalian sekarang….”
”Sekarang….”
”Jangan paksa kami tumpahkan lebih banyak darah…..”
Aku melukai tangan Baginda, tapi beliau malah memberi senyuman yang begitu tulus ke arahku, yang sudah lama tidak……., semoga Baginda mau menjadi tuanku, dan semoga senyuman beliau tidak berakhir seperti Mun Gi.
###
Kali ini yang tampak adalah bangunan begitu megah dan sorak sorai yang menggema, rakyat menyambut keselamatan Raja Go Seom Yong.
”Segala hormat kami untuk Paduka…….”
”Terima Kasih, doa kalian yang menyelamatkanku.”
”Anakku Geun Mo, ikutlah bersamaku.”
”Baik Ayah……..”
Paduka Raja menceritakan apa yang terjadi kepada Pangeran, sedangkan tangan yang terbalut kain menggenggamku erat.
”Pedang ini menyelamatkanku………..”
”Ya Ayah.”
”Maukah kau menjaganya, menjadi tuannya…..”
”Tapi… pedang itu juga melukai Ayah.”
”Apa arti sebuah luka dibanding sebuah nyawa?”
”Tapi….. Ah Ayah, aku ingin menemui guru dulu.”
”Anakku,,,,”
”Anak mohon diri Ayah..”
Aku tidak mengerti, satu sisi aku tersanjung Paduka yang selalu menghargaiku, namun mungkin saja nanti aku tidak akan memiliki Tuan.
”Paduka, mungkin Pangeran belum siap menerima pedang ini.”
”Tapi pedang ini sangatlah berharga, lihat saja ketajaman matanya, aku yakin dia dibuat dengan sangat tulus.”
”Lalu Paduka….”
”Pengawal istana, sungguh aku ingin anakku sendiri yang menjaganya.
Walaupun ada sedikit bagian kurang sempurna, tapi sungguh….”
”Saya mengerti Paduka.”
###
Tahun sudah berganti, aku lewati hari bersama paduka, apakah sekarang aku sudah pantas membanggakan diri? Yah mungkin sudah.
”Pengawal, taruh pedang itu di gudang senjata. Ah tanganku sakit sekali.”
”Baik pangeran……”
Ternyata keadaan berubah begitu cepat. Sudahlah, paling tidak disini aku bersama teman-teman yang serupa.
###
”Sampai kapan kita harus terus begini?”
”Yaah, setiap malam berlatih panah, setiap pagi memanggul gandum, siang hari lari bermil-mil, hancur badanku.”
”Belum lagi ocehan komandan….”
” Kalau yang itu salahmu sendiri, tinggal menikam boneka jerami saja kenapa mesti berpikir lama.”
”Ahh… jika berlatih pedang aku berusaha konsentrasi. Tapi lama-kelamaan malah gugup, jadi tidak tepat.
Ah sudahlah, yang penting aku ingin segera meninggalkan tempat ini.”
”Apa kau sungguh-sungguh Yong Eun?”
”Heh…. memang ada jalan keluar?”
”Di belakang gudang senjata. Beberapa pengawal istana sering menggunakan jalan itu untuk pergi ke tempat hiburan.”
”Kau serius Jin Kang?”
”Tapi pengamanannya agak sulit ditembus, sebaiknya kita bersembunyi dulu di gudang senjata.”
”Baiklah, nanti malam segera bersiap.”
”Kenapa…. buru-buru sekali?”
”Apa kau tidak ingin cepat kabur dari sini? Kau mau mendengar ocehan komandan tiap waktu?
”Yang sering mendapat ocehan bukannnya Cuma kau?
”Sudahlah, segera bersiap.”
Malam menjelang, beberapa orang datang kesini adalah hal yang biasa, mereka mengendap-endap lalu menghilang, kembali lagi menjelang fajar. Tapi keempat orang ini sungguh asing. Dua orang menggunakan logat yang tidak biasa, siapa mereka? Sedangkan yang dua lagi membawa bungkusan, ah aneh sekali. Mereka tidak saling melihat.
”Sst Jin Kang, tunggu sebentar. Sepertinya ada yang lain disini.”
”Benar, dua orang itu, apa mereka melihat kita?”
”Entahlah….”
Dua orang yang membawa bungkusan tidak sengaja terbentur gagang tombak. Dua orang yang berlogat aneh terkejut, dan bersiap menghunus pedang.
”Siapa kalian?”
”Hah… ternyata hanya dua prajurit bodoh.”
”tapi jika dibiarkan hidup akan berbahaya.”
”Logat yang aneh….Jangan…. jangan… kalian penyusup dari Kuk Sang?
”Hah… bagaimana ini?”
Karena merasa dikenali, penyusup berusaha membunuh dua prajurit itu. Yong Eun segera menyambarku, dia selalu gugup jika memegang pedang. Tapi terkejut karena tangannya terluka langsung saja ia melemparkanku ke arah penyusup, dan lagi-lagi darah tercecer olehku. Yang bernama Jin Kang rupanya lebih mahir, dia memutar tombak ke segala arah, Yong Eun melemparkan segala benda ke arah penyusup yang masih hidup, menimbulkan keributan. Lebih dari sepuluh prajurit mendobrak masuk. Menangkap penyusup. Meskipun gagal melarikan diri, ada sedikit rasa bangga di hati Yong Eun dan Jin Kang, mereka merasa menyelamatkan negara.
SekarangMereka lebih sering mendapat perhatian komandan, dan Yong Eun tidak gugup lagi memegang pedang, tidak berlama-lama jika ingin menikam, karena jika ia berlama-lama, tangannya pasti akan kulukai.
###
Semua menyambut panglima perang yang baru, tuanku Yong Eun, namun ada yang teriakannya tidak sesemangat yang lain, siapa lagi kalau bukan Jin Kang. Selama ini mereka selalu bersama, bahkan berniat kabur bersama, jika bukan karena ia mengajak Yong Eun ke gudang istana, Yong Eun tidak akan bertemu denganku dan menjadi terkenal seperti saat ini. Tikamannya cepat dan tepat, menjadi yang terdepan di saat perang. Sekarang Yong Eun menjadi panglima sementara ia sendiri tetap sebagai prajurit, padahal dulu kemampuannya lebih cakap.
Setiap kali pujian yang ia dengar tentang panglima, Jin Kang selalu memendam marah, semakin lama semakin menumpuk hingga hati nurani tidak bisa lagi menahannya untuk memusnahkan Yong Eun. Berulang kali aku membentur tombak Jin Kang, semakin lama aku tidak bisa bertahan lagi, kesempatan sesaat diambil Yong Eun menikam Jin Kang, dengan sisa tenaga Jin Kang juga menghujamkan tombak ke arah perutnya. Yong Eun langsung mencabutku dan menangkis tombak, aku mencoba kuat, tapi aku sungguh tak bisa, tenaga yang disertai kebencian jauh melebihiku, tombaklah yang menang dan terbenam lurus di lambung Yong Eun. Jin Kang juga ambruk.
Seorang pengawal istana melapor pada komandannya mengenai pertumpahan darah, Sang komandan begitu terkejut. Ia memerintahkan anak buahnya menguburkan Panglima dan prajurit, ia sendiri memungutku dengan hati hati, ternyata ia masih mengenaliku. Ia membawaku ke seorang pandai besi yang terbaik, jauh dari istana, untuk menyambungkanku yang terbagi.
###
Aku berada di tangan yang tepat, kini aku tidak lagi melukai tuanku, seorang pemuda yang selalu bersemangat mengayunkanku kesana kemari. Ia genggam erat seakan ia ingin kita bersama selamanya. Ia begitu takjub memandangiku saat komandan pengawal berkata bahwa aku patah karena menahan tombak yang akan menusuk Panglima. Ia selalu tersenyum saat mengayunkanku. Komandan pengawal istana kembali, kali ini tidak sendiri, bersama Paduka yang sudah lanjut usia. Paduka terkejut karena bukan pangeran yang merawatku selama ini, dia tidak mengira rumahku adalah gudang senjata usang, dan menjadi saksi pembunuhan panglima. Yeon Hoo anak padai besi, dengan berani mengatakan pada Paduka, ia ingin menjadi tuanku. Awalnya Paduka menolak, namun ia juga tidak ingin penyelamatnya jatuh di tangan orang yang tidak tepat. Yeon Hoo tersenyum lebar, lihatlah Paduka aku bersama orang yang tepat, ia seperti Mun Gi, seperti Paduka juga. Lihat pula genggaman dan kesungguhan hatinya, sekali aku bertemu tuan yang begitu sulit kuungkapkan.
Ia membawaku ke puncak gunung, membagi mimpinya denganku.
”Lihatlah…… bersamamu aku akan menjadi Ahli Pedang sejati. Tak kan kubiarkan seorang pun meneteskan air mata, tak kan kubiarkan seorang pun menggunakan pedang hanya untuk melukai, semata karena ia mampu. Takkan kubiarkan seorang pun merendahkan harga dirimu, membunuh tanpa sebab yang jelas……
Kau akan menjadi temanku dan hanya menumpahkan darah untuk negara. Jika aku tidak mampu lagi menjadi tuanmu, aku tak lagi mampu membesarkan negara kita dengan perang, aku akan menjadikanmu sumber penghidupan, menjadi alat pertanian, jauh lebih berguna dari sekedar menumpahkan darah. Karena kita, tidak ada lagi orang berteriak kelaparan, kita segarkan udara agar orang mampu bernafas dengan nyaman, kita perindah dunia dan mengembangkan senyuman di setiap wajah.”
Itu adalah mimpiku juga
”Maaf jika kau sungguh tak berkenan dengan mimpiku, tapi aku ingin selalu bersamamu. Dan jika aku bagi mimpiku padamu, rasakanlah…. milikilah… perkenankan aku selalu menggenggammu erat. Jadikan semua ini mimpimu juga.”
Terima kasih, sepenuhnya aku adalah untukmu. Kau bukan hanya pemuda biasa, pemuda yang istimewa. Kini aku kan lupakan harapanku yang dulu, yang semula ingin menjadikan para ahli pedang kepercayaan istana sebagai tuanku, tidak, aku tidak ingin lagi. Aku ingin bersamamu, karena mimpimu, penghargaanmu jauh melebihi mereka. Yoen Hoo,…
###
Bukan hanya kebahagiaan yang aku bawa untukmu, namun juga petaka. Wang Bin, putra Yong Eun mengetahui bahwa sebenarnya penyebab dari kematian ayahnya adalah aku. Yong Eun selalu mengeluhkan sikap Jin Kang padanya, menceritakan kebencian Jin Kang padanya, dan juga padaku. Kecerdasan Wang Bin lebih dari cukup untuk sekedar memahami motif pembunuhan ayahnya, tidak sulit pula menemukanku, karena saat itu dia adalah kepercayaan komandan pengawal istana. dan tidak ada lagi yang bisa ia salahkan, hanya aku yang tersisa. Tidak ada lagi yang bisa menerima dendamnya, hanya tinggal aku.
Wang Bin berusaha merebutku dari Yeon Hoo, tapi kami sudah membagi mimpi, Yeon Hoo selalu mempertahankanku, ia selalu berlatih di gunung yang tinggi, di tepi jurang, demi meningkatkan kemampuan, demi melindungiku.
”Yeon Hoo, aku tidak butuh nyawamu. Serahkan saja pedang terkutuk itu padaku…”
”Kau… keterlaluan sekali, kenapa melimpahkan dendam kepada sebuah pedang.”
”Jika bukan karena pedang itu, ayahku tidak akan mati…”
”Pedang ini patah karena melindungi ayahmu……..”
”Tahu apa kau, cepat serahkan pedang itu. Jika saja ayahku tidak menemukan pedang itu, ia akan tetap menjadi prajurit, namun ia juga tidak akan meninggalkanku.”
”Kau bodoh…. memang apa yang akan kau dapat jika sudah menghancurkan pedang ini?”
”Cepat serahkan saja……..”
”Tidak semudah itu, dia adalah bagian dariku. Bunuh aku jika kau ingin miliki dia.”
”Bodoh, kau lebih menghargai pedang dibanding nyawamu sendiri. Baiklah sebelum fajar aku akan menunggu disini. Kita bertanding….”
”Aku…… akan berusaha.”
”Pedang itu akan kuhancurkan hingga tak ada lagi jejaknya.”
###
Mentari belum terbit, hawa dingin masih menusuk tulang, Yeon Hoo memasang kuda-kuda. Wang Bin memiliki pedang yang jauh melebihi aku, besi terbaik, tempaan yang bukan sembarangan, keunggulannya begitu terasa saat kami berbenturan. Namun Yeon Hoo terlalu lincah untuk dikalahkan dengan mudah, tidak sia-sia ia berlatih begitu keras. Pertandingan ini sangat lama, mereka berdua tidak menyadari beberapa orang mengintai.
”Hei anak muda……….”
”Siapa kalian?”
”Permainan pedang yang bagus….”
”Siapa kalian?”
”Lebih baik jangan buang tenaga percuma, ikutlah menjadi bagian kami. Imbalannya sangat memuaskan.”
”Jangan ganggu pertandingan ini.”
”Bergabunglah dengan kami, kalian tidak akan menyesal.”
”Apa maksud kalian?”
”Jika kalian mau melindungi kegiatan pertambangan di dalam hutan sana.. akan ada 5 keping emas setiap harinya.”
”Manfaatkanlah kemampuan pedang kalian…. daripada membuang waktu.”
”Pertambangan, memangnya…….. jadi kalian menambang secara liar.”
”Liar..?? Hah, pemilik semua orang negeri ini tidak tahu ada emas disana.”
”Jadi…. kalian, jangan bilang kalian dari Kuk Sang…”
”Kenapa ?? sudah bergabunglah dengan kami.”
”Kami bukan penghianat negara….”
”kami tidak sudi bergabung.”
”Hah… bicara begitu apa tidak sayang nyawa?”
”Ayo hadapi kami.. lebih baik mati daripada menjadi penghianat negara”
Beradu pedang juga tidak membantu, selain kalah jumlah juga kalah kemampuan, Pedang Wang BIn terlempar. Akhirnya Yoen Hoo dan Wang Bin memutuskan melompat ke jurang. Orang-orang itu mengamati sebentar lalu meninggalkan tempat itu diiringi tawa. Mereka tidak menyadari, aku tertancap di tanah berbatu, menahan Yeon Hoo yang menggenggam tangan Wang Bin. Perlahan ia merambat ke atas, mengerahkan semua tenaga, aku dalam kondisi yang sangat sulit. Kaki Wang Bin berhasil meraih sebatang pohon, mendekatkan ke tangannya, ia genggam dan melepaskan tangan Yeon Hoo. Beban berkurang, tangannya yang bebas menyambar batu, mengangkat tubuhnya naik, Yeon Hoo selamat, kemuadian menarik Wang Bin ke atas. Batu yang Wang Bin pijak terlepas, Yeon Hoo mengulurkanku…
”Raih pedang ini dan tancapkan, genggam erat untuk menopangmu.”
”Tapi….”
”Tancapkan cepat,….”
Mereka berdua berhasil selamat.
”Terima ….Kasih…”
”Itu sudah seharusnya, menghela nafas sebentar lalu kita lanjutkan pertandingan.”
”Pedang itu…. ”
”Dia adalah seorang penyelamat, menyelamatkan Paduka, Panglima, dan….kita berdua.
Yang jelas tidak akan kuserahkan padamu, jadi bagaimana?”
”Hah…. sudahlah, pedang itu juga sudah menyelamatkanku. Miliki dan jaga baik-baik. Kau benar, pedang itu tidak pantas menerima dendamku, bagaimanapun pedang tergantung pemiliknya. Jaga baik-baik.”
”Berarti tidak ada alasan untuk bermusuhan. Kita teman…”
”Yahh, Selamanya teman.”
”Hei, kita harus cepat memberi tahu paduka.”
”Kau benar, ayo kita bergegas.”
###
Yeon Hoo dan Wang Bin menjadi sahabat baik, berusaha saling memahami satu sama lain. Mereka berdua melaporkan penambangan di hutan tapi tidak mendapat perhatian Pangeran Geun Mo yang sudah naik tahta. Yeon Hoo merasa putus asa, untuk pertama kalinya ia berusaha mengabdi pada negara, tapi tidak mendapat jalan. Wang Bin datang menghibur
”Hah apa yang harus kita lakukan sekarang?? Tidak ada yang mempercayai kita. ”
”Hei, sedang apa, merenung lagi?”
”Wang Bin, bisa-bisanya berkata begitu. Tak ada yang mempercayai kita”
”Sudahlah, kita akan berusaha lebih keras. ”
”Lebih keras??”
”Dan lebih cerdik, tenanglah. Kita melakukan kebaikan, pasti akan ada jalan. Aku janji, akan ada jalan. Heh, pedang terus yang kau asah…..”
”Dia ini teman hidupku, kita punya mimpi yang sama.”
”Ya, aku tahu itu. ”
Diam-diam Wang Bin memanfaatkan kedudukannya, ia menggalang prajurit tanpa sepengetahuan komandan, ia juga mengatasnamakan panglima Yong Eun. Ia tidak merasa bersalah, mungkin sedikit melanggar, namun itu demi kepentingan negara juga. Ia bersama prajurit yang mendukung penyerangan tambang, tanpa sepengetahuan Yeon Hoo. Namun pertambangan dijaga oleh orang berekemampuan istimewa yang tidak sedikit jumlahnya, banyak prajurit gugur, hanya Wang Bin dan 5 orang tersisa berhasil melarikan diri. Pengerahan prajurit secara diam-diam diketahui Raja dan dicurigai sebagai pemberontakan. Wang Bin dicopot jabatannya, kemuadian dijebloskan ke penjara. Ia sangat marah karena perjuangannya sama sekali tidak dihargai, akhirnya ia malah kabur dan bergabung dengan penambang Kuk Sang, menjadi salah satu pasukan pelindung.
Di Lain pihak Yeon Hoo sangat terkejut, selama ini dia memutuskan diam untuk mencari cara yang tepat. Ia berusaha mengintai penambang secara diam-diam dan menemukan Wang Bin sebagai bagian dari mereka. Awalnya ia mengira itu adalah bagian dari rencana Wang Bin tapi, Wang Bin benar-benar dendam pada negara. Sedih temannya kini adalah seorang penghianat.
Yeon Hoo menemui komandan pengawal istana yang mengenalnya, mengajukan diri sebagai prajurit. Ia melihat ada orang-orang yang memiliki kemampuan pedang istimewa, memiliki pangkat yang tinggi dan tidak sembarang orang mengenal mereka. Yeon Hoo ingin mereka membantunya menghancurkan pertambangan, yang sangat merugikan negara.
”Kau, seorang prajurit rendahan.. ingin kami membantumu?”
”Hei kau tidak tahu bahwa kami langsung di bawah perintah Raja, …”
”Tidak ada waktu melayani kebohonganmu… penambang Kuk Sang, orang-orang pelindung, omong kosong.”
”Aku bersungguh-sungguh, Tuan mohon bantuannya.”
”Sudahlah ayo kita pergi….”
”Aku bersedia melakukan apapun untuk itu, aku mohon….”
”Tunggu sebentar Sa Myeon,hei kau sudah berani bicara banyak di depan kami, kau juga berani meminta kami membantumu… hah itu patut dihargai.”
”Benar juga, begini saja, tunjukkan kesungguhanmu, baru kami akan bergerak.’
”Kesungguhan..??”
”Ya… Menjadi Berarti atau Mati. Artikan kalimat itu dan tunjukkan pada kami.”
Pada mulanya, Yeon Hoo ingin menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh ingin melindungi negara, dengan membunuh biang keonaran, perampok, dan sebagainya.
”Berjanjilah… kau selalu bersamaku. Bantu aku.”
Segalaku adalah untukmu Yeon Hoo. Seperti kembali pada masa lalu, meskipun aku lelah namun aku sudah berjanji, aku selalu percaya padamu, aku ikuti setiap gerakan tanganmu, namun benarkah ini jalan yang mereka inginkan. Aku coba hilangkan rasa ragu, tapi……Semoga yang kulakukan ini benar dan masih menjadi jalan untuk meraih mimpi kita, semoga lukaku memang benar demi negara. Berpuluh jantung kutikam dan darah kutumpahkan,tidak tahu mengartikan perasaan ku saat itu. Saat kau berhadapan dengan mereka, menunjukkan hasil kesungguhanmu, bukan bantuan tapi malah tawa yang kau terima. Maaf aku tidak bisa menunjukkan jalan yang benar untukmu.
”Jika itu yang kau anggap Berarti, Matilah saja kau.”
Yeon Hoo tidak tahu lagi bagaimana menunjukkan kesungguhannya, ia mulai merindukan Wang Bin yang selalu menghiburnya. Bagaimanapun aku selalu menyertainya, aku tidak bisa berbuat banyak, hanya mengabdikan kesetiaan padanya, tidak bisa menjadi teman sebenarnya. Sungguh jika aku adalah manusia, aku akan menjadi orang pertama yang mengucapkan kata penenang, mengucapkan janji penguat, dan menyediakan bahu untuk membagi beban. Aku selalu iri pada Wang Bin, yang dulu menjadi musuh namun sekarang adalah teman terbaik, Wang Bin yang berusaha melawan para penambang itu namun tidak dihargai. Ia juga tidak rela Wang Bin menjadi penghianat negara, seperti orang-orang yang kuhancurkan selama ini. Yeon Hoo dengan sisa keberaniannya, berusaha menemui Wang Bin, menyadarkannya dan membawanya kembali.
”Kau tidak mengerti betapa sakit saat perjuangan kita tidak dihargai. Saat kita berhasil lolos dari maut, demi negara, namun malah dijebloskan ke penjara.”
”Aku tahu itu, tapi bukan pilihan yang baik untuk menghianati negara.’
”Negara, sekarang aku tidak peduli lagi dengan negara pecundang ini.”
”Kau ingat saat itu kita hampir mati di tepi jurang, kita berjuang tidak mau menghianati negara.”
”Itu…”
”Apa kau mau sia-siakan dirimu, keselamatanmu saat itu, dengan begini?”
”Kau tidak…..”
”Kau selalu menganggapku tidak tahu apa-apa. Baiklah, mungkin aku memang begitu. Tapi kau juga tidak tahu
Saat aku terpuruk, siapa yang menghiburku?
Siapa yang menenangkanku dengan janji yang agung?
Siapa yang mau bersamaku, melupakan dendam masa lalu dan berjuang bersama….. Sekarang Siapa, katakan Siapa?
Kumohon kembalilah….. jika bukan demi negara, setidaknya demi aku..”
Wang Bin kembali, ia sadar selama ini dia salah. Ia juga merindukan Yeon Hoo yang selalu mengembalikan hati nuraninya.
Seorang yang mengikuti Yeon Hoo tersenyum, ia mengerti Yeon Hoo mampu menunjukkan kesungguhannya, demi seorang teman ia menantang maut, apalagi demi negara, pasti ia akan melakukan lebih. Orang-orang ahli pedang itu akhirnya mau membantu Yeon Hoo dan menyadari bahwa Wang Bin yang dulu dituduh sebagai pemberontak tidak bersalah. Namun ada seorang yang tidak menyukai Wang Bin, Seseorang yang diam-diam memberi tahu raja dan menyebar isu pemberontakan, Jun Sa Myeon putra Jin Kang. Dendam masa lalu masih membayanginya.
”Kau tahu, pemberontak……. Sebenarnya Kau hanyalah umpan”
”Apa maksudmu? Siapa Kau?”
”Itu tidak penting, kau hanya dimanfaatkan temanmu untuk menarik perhatian kami. Yah… agar kami mau membantunya.”
”Yeon Hoo tidak mungkin seperti itu.”
”lalu seperti apa? Dia hanya ingin mendapatkan nama, pura-pura berjuang demi negara, memanfaatkan teman.. hah….”
”Yeon Hoo…….”
”Cukup…”
”Mana ada yang mau mengorbankan nyawa demi pemberontak sepertimu, penjilat , hah…. tidak mungkin jika bukan karena jabatan.”
”cu………”
”Silakan saja obati hatimu, tenangkan, tetap berkhayal punya seorang teman setia. Wah teman setia…….. hoho lucu sekali.”
Pikiran Wang Bin kacau, selama ini dia tidak punya siapa-siapa, ayahnya meninggal. Ibu juga menyusul tidak lama kemudian. Waktu ia habiskan untuk menghancurkanku, sampai ia menemukan teman dalam diri Yeon Hoo. Namun teman satu-satunya, memanfaatkannya, demi……. Ah. Wang Bin serba salah, hasutan Sa Myeon tepat menusuk ulu hati, Ia bertahan demi negara dan tidak dihargai, sekarang ia kembali demi Yeon Hoo, namun jika Yeon Hoo benar seperti itu, tidak ada lagi alasan untuk bertahan, ia berlari-berlari menuju, Pertambangan Kuk Sang. Memberi tahu pasukan pelindung, akan ada serangan berat malam nanti.
###
Yeon Hoo tidak menemukan Wang Bin dimanapun, ia ingin mencari, namun Sa Myeon menghalanginya dan mengajak menyusun rencana penyerangan malam nanti. Dalam hati ia tersenyum, berhasil menjatuhkan Wang Bin. Ia tidak ingin anak pembunuh itu mendapat perhatian Raja.
Lokasi penambangan dalam keadaan siaga, mereka menyadari akan ada serangan. Beberapa ahli pedang melawan pasukan pelindung, mereka membawa pasukan, walaupun tidak banyak.Yeon Hoo dan Sa Myeon memimpin pasukan untuk merobohkan tambang. Wang Bin mengikuti Yeon Hoo,
”Tunggu, kau penjilat……”
”Wang Bin, dimana saja kau, sekarang ayo bantu aku…”
”Kau… jangan pura-pura, kau menyelamatkanku demi jabatan kan?? dasar penjilat. ”
”Apa maksudmu??”
”Kau kira aku tidak tahu…. Pertemanan kita berakhir. Sekarang bersiaplah untuk mati.”
”Wang Bin kau……..”
Keduanya beradu pedang, sungguh aku tidak ingin melukai Wang Bin, bagaimanapu dia adalah temanku, Yeon Hoo sangat membutuhkannya, meski aku iri, tidak ada alasan bagiku untuk membenci. Tiba-tiba Sa Myeon muncul, berusaha menikam Wang Bin, dia terluka dan terpojok ke pertambangan, kakinya terjepit. Sa Myeon memberi kode pada seorang prajurit untuk merobohkan tambang,
”Wang Bin sungguh, aku memintamu kembali sebagai teman, karena aku butuh kau…..”
”Butuh untuk meraih jabatan kan? Cukup omong kosongmu.”
”Sekarang belum terlambat, bantulah aku. Tidak bisa kau membaca mataku?? Pernah selama ini aku menghianatimu?”
”Kau………..”
”Wang Bin kumohon, percayalah.”
Tambang mulai roboh, Sa Myeon segera pergi, Yeon Hoo berusaha menolong Wang Bin, menebas batu besar yang menjepit kakinya. Batu itu sangat keras, mungkin aku yang akan hancur.
”Batu ini keras, pedang mu yang akan hancur.Sudahlah cepat pergi….”
”Tidak, tanpa kau……”
”Bodoh……. kau akan mati, cepat pergi”
”Wang Bin, aku akan menyingkirkan yang menjepitmu, tahan”
”aku tahu pedang ini bagian dari nyawamu, hentikan dan cepat pergi….”
”Diam ,kita akan pergi bertiga…”
”Aku
Aku Percaya padamu. Kumohon cepat pergi.”
Aku menahan sakit, namun aku sangat ingin menyelamatkan Wang Bin, setidaknya bila aku hancur, Yeon Hoo masih bisa membagi mimpi padanya. Namun reruntuhan tidak bisa menunggu, aku tertancap pada batu itu, padahal tinggal sedikit lagi akan pecah. Wang Bin mendorong Yeon Hoo, dan berusaha mencabutku lalu ingin melemparkannya pada Yeon Hoo
Semua runtuh menimbunku dan Wang Bin. Semua telah berakhir, aku gagal menyelamatkan Wang Bin, Wang Binlah yang ingin menyelamatkanku. Kalian berdua sungguh menghargaiku, kalianlah tuan terakhirku dan yang teragung, terima kasih Yeon Hoo yang sudah mau membagi mimpi denganku, mimpi yang terlalu indah dan tinggi, terima kasih Wang Bin yang melupakan dendammu, berusaha melindungiku. Sekarang patutlah aku berbangga, bukan karena terbuat dari besi pilihan, namun karena mengabdi pada tuan-tuan yang memiliki mimpi agung dan begitu besar hati. Aku tidak peduli jika aku takkan punya tuan lagi, aku tidak ingin ada yang menggantikan kalian, dan tidak akan pernah ada, aku tidak peduli sedikit demi sedikit aku akan hancur, aku sungguh berbangga.
Nanti kau akan menjadi bagian dari kerajaan itu, carilah pengganti yang lebih baik dari aku, jadilah ahli pedang sejati.Tetaplah teguh dengan mimpimu, kami berdua selalu ada disampingmu….
@@@