Senin, 08 Oktober 2012

My Short Story: Satu Makna Kata Untuknya




“ Dia membenciku……,” sebenarnya aku tak ingin mengatakannya meski dalam hati, tapi apa yang aku rasakan selama ini sudah terasa berat. Apa yang menyebabkannya seperti itu ? semua terjadi begitu saja, aku tak berani menanyakannya, takut akan menambah beban hidupnya, lagi pula aku mencoba sabar karena itu memang kewajibanku. Tapi kenapa harus aku ? kenapa bukan orang lain yang ia benci ?
“ Dik, Adik lihat Dik Nia ?“ Ia memanggilku, berbeda sekali dengan caranya menyebut Nia, adik bungsuku yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar tahun ke tiga.
“ Tadi Dik Nia pamit ke warung Bu Siti, memangnya ada apa Bang Fahran mencari Dik Nia ?”
“Oh…Abang hanya menyuruh Dik Nia ke rumah Anang.”
“Cerpen Abang sudah selesai…..biar Naf saja yang mengantarkannya.”
“Tidak usah, Adik kan sedang sibuk. Biar Abang menunggu Dik Nia saja, mungkin sebentar lagi pulang.”
“Sudahlah Bang, biar Naf saja, biasanya kan Dik Nia main dulu dengan Fifi, pulangnya sore-sorean”
“………”
Abang menyerahkan kertas-kertas itu padaku, aku menunggu beberapa saat, namun frase itu tak ia ucapkan, aku beranjak pergi, dalam hati aku kecewa sudah kurelakan pekerjaanku tertunda, namun sekedar ucapan terima kasih pun tak ada. Tak apalah mungkin nanti, besok atau kapan-kapan, aku akan menunggunya…. Sebenarnya aku heran pada Bang Fahran, mengapa ia lebih memilih Anang sebagai pembaca pertama setiap tulisannya, bukan aku,..adiknya sendiri. Biar, seiring waktu pasti aku akan tahu apa penyebabnya.
***
Malam yang dingin, jalanan yang sepi, tanah-tanah yang lembab, dan bulan yang bersembunyi. Tepat pukul 19.30 aku membuka gerendel gerbang depan rumah. Dengan baju setengah basah, aku menahan udara yang menusuk tulang,
“Assalam mu Alaikum……”
“Wa’alaikum Salam, tunggu sebentar!”kudengar Ibu menyahut. Tak seberapa lama, pintu depan terbuka.
“Nafisa,…Ya Allah, kamu kenapa terlambat pulang ?Ayo cepat masuk, baju mu juga basah, kenapa tidak bawa payung?”
“Pekerjaanku menumpuk Bu, malah niatnya mau lembur, Bang Fahran sama Dik Nia mana Bu?.”
“Abangmu sedang menulis, Nia malah sudah tidur. Cepat kamu keringkan badanmu! biar Ibu siapkan air panas.”
“Ya Bu..”
Setelah mandi dan merasa nyaman, aku kembali ke ruang tamu, ada Ibu dan Abang sedang bercakap-cakap.
“ Naf, ayo kemari, Ibu sudah membuatkanmu teh hangat.”
“Terima kasih ya Bu.”
“Naf, kamu itu kalau bekerja jangan terlalu dipaksakan, jaga kondisi badan kamu juga!”
“Yah…semua itu kan usaha Bu, Naf benar-benar ingin kuliah.”
Abang hanya diam, aku melihat ada yang aneh di wajahnya, ia tampak datar, namun seperti ada yang dipaksakan. Tak ada tanda-tanda Ia akan menunjukkan perasaan iba atau simpati padaku, biarlah….mungkin nanti, besok, atau kapan-kapan.
***
Pekerjaan yang menumpuk, aku lelah. Berjam-jam aku menghadapi computer lawas ini, namun ada saja laporan-laporan yang tak kumengerti. Aku mencoba memfokuskan perhatianku, mencoba konsentrasi, namun tak bisa, aku menyerah, aku merasa suntuk. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan sedikit pendapatan. Aku mencoba meniti karir dari dasar, setapak demi setapak, dan sampai menjadi seperti ini, semua untuk satu harapan, melanjutkan kuliah. Sekarang tinggal menanti waktu saja……
Aku beranjak menuju jendela, yah….sekedar menjernihkan pikiran, aku suntuk. Aku ingin melihat-lihat taman bunga. Bunga-bunga itu sedang bersuka-cita, mendapat perhatian dari seorang lelaki yang lembut dan baik hati, seandainya akulah yang menjadi bunga itu,….dan itu tak mungkin. Meski memiliki kelemahan dalam system geraknya, Abang tak pernah mau tinggal diam, di sela-sela kesibukannya menulis, Ia menyempatkan diri berkebun. Tak heran, bila Abang tak pernah kehilangan ide untuk menulis, berjuta inspirasi di sela-sela pesona ia dapatkan di sana. Dan di antara untaian pesona itu, ada satu bunga yang sangat Ia jaga, sangat Ia pelihara, bahkan sampai layu pun tak ada yang boleh menyentuhnya, katanya ingin dipersembahkan kepada orang terkasih. Insan yang menerima cinta terindah dari hatinya, insan yang mencerminkan bunga…..White Moon Orchid.
Dari jendela kulihat Abang berusaha menjangkau setangkai mawar putih mungkin ingin Ia persembah kan untuk Ibu, begitulah kebiasaan Abangku setiap pagi. Kami bertemu pandang, aku mencoba melayangkan seberkas senyum untuknya, tapi Ia diam, datar. Lagi-lagi aku kecewa.
Lalu kulihat Nia menghampirinya, memberikan gunting, spontan, tanpa ditunggu, frase yang sangat kudamba meluncur, “Terima kasih.”senyum pun ia persembahkan semanis mungkin, tapi bukan untukku. Aku hanya bisa menghela nafas.
***
Sudah kucoba menuangkan segenap perasaanku, berusaha keras mencurahkan ide-ideku, selalu saja gagal. Aku ingin seperti Abang, menjadi penulis yang handal, hasil karyanya dimuat di manap-mana, setiap kali aku mencoba menulis, hasilnya aku serahkan pada Abang untuk direvisi, tapi setiap kali pula de ujung bawah ada tambahan…”Kurang satu kata”…aku koreksi lagi, di benakku karya itu sudah sempurna, aku menanyakannya pada Abang, namun Ia selalu diam.
Ini sekian kalinya aku menyetorkan tulisanku pada Abang, Ia membacanya sekilas, dan tanpa belas kasihan atau sedikit penghargaan, Ia ambil pena merah, dengan mantap Ia tuliskan kalimat itu lagi. Lalu kertas ia serahkan padaku, tanpa kata, tanpa ekspresi, dan beranjak pergi.
Aku ingin marah….aku ingin mrnangis…tapi sudahlah.
***
Aku melirik kembali saldo tabunganku, berkali-kali aku bersyukur, Tuhan selalu menjawab dan mengabulkan do’a hambanya yang berusaha. Aku melirik foto almarhum ayah, gagah, tegap, dan sabar. Ia berpesan agar aku menjaga ibu, abang, dan Nia. Tiba-tiba aku teringat pada ibu, beberapa hari ini wajahnya tampak murung, entah mengapa…saat aku sedang berfikir, Beliau memanggilku.
“ Naf……, Nafisa…..”
“Iya Bu……”
“Kemarilah Nak !”
“ Ada apa Bu? Sepertinya ada hal yang mendesak ?”
“Duduklah Nak, Ibu ingin berbicara hal yang serius Nak.”
“Tentang apa Bu?”
“ Tentang Abangmu.”
“Memangnya ada apa dengan Abang Bu? Apa terjadi sesuatu padanya?”
“Sebenarnya……..ah…Ibu minta maaf bila selalu menghalangi semua cita-citamu, Ibu ……..hanya ingin semua anak Ibu bahagia. Tapi ….”
“Ada apa Bu? Sudah menjadi hal yang semestinya seorang anak berbakti pada orang tua, apalagi untuk Ibunya, katakanlah Bu………”
“Ini bukan persoalan mudah Nak, ini…berkaitan denga cita-cita dan harapanmu………”
“Maksud Ibu?”
“Abangmu…… ingin sekali dapat berjalan. Kami mendengar dari Pak Haji Ifham, putranya yang lumpuh sejak lahir bisa disembuhkan dengan pengobatan di luar negeri.”
“…………”
“Pak Haji bersedia mengantar Abangmu, namun biaya pengobatannya tidak sedikit. Sawah peninggalan Ayahmu saja masih belum memenuhi biaya pengobatan itu……sehingga…..”
“Ibu memintaku untuk merelakan uang yang susah payah ku kumpulkan untuk kuliah?” aku memotong kata-kata Ibu, kuucapkan kata-kata yang membuat mata dan hatiku basah. Aku harus merelakan harapanku untuk seseorang yang aku tahu, Ia sangat membenciku, acuh terhadapku, dan tak pernah mau menyebut namaku…..Oh Tuhan….
“Nak, sejak lahir Abangmu sudah menderita, Ia hanya bisa iri dengan teman-temannya, hanya bisa menangis….kini ketika ada sebatang lilin dalam hidupnya, maukah kau memercikkan api agar menjadi terang?”
“Tap….Tapi Bu…..”ini keputusan yang sangat berat, aku sedang berusaha menahan gemuruh hati yang menandakan adanya peperangan. Harapan atau kewajiban……
“Ibu mengerti ini sangatlah berat, namun Ibu mohon………..”Ibu menangis, aku telantarkan amanat ayah, aku anak durhaka, dan sebelum lebih jauh lagi…………..
“Baiklah Bu, Naf ikhlaskan” aku masuk ke kamar, menahan aliran air yang tak terbendung di pelupuk. Kewajibanlah yang menang.
Malamnya aku tak keluar kamar, sayup-sayup ku dengar Ibu dan Abang sedang bercakap-cakap, mungkin membicarakan keberangkatannya. Semoga saja setelah Ia tahu, sikapnya akan berubah terhadapku, tak membenciku lagi. Semoga…
***
Esok aku membuka mata dengan berat, aku menuju jendela, menyibakkan tirai, kemudian menghirup udara pagi yang segar. Kembali kulihat Abang yang sedang menyiram bunga dibantu Nia. Aku berusaha melayangkan senyum, hendak mengetahui perubahan sikapnya, Ia menatapku sebentar, lalu menyibukkan diri dengan Nia. Aku menyesal…..sesal dengan penuh sesal, untuk apa aku mengorbankan harapanku yang sudah lama kupendam, hanya untuk orang yang semakin membenciku….
Saat Ia masuk, aku bergegas menemuinya. Aku kendalikan hatiku untuk tidak meluapkan apa yang kurasakan selama ini.
“Bang,…..”
“………”
“Bang Fahran, Naf ingin bicara sebentar.”
“Bicaralah.”
“Kapan Abang akan berangkat ke luar negeri?”
“Bulan depan, memangnya kenapa ?”sahutnya dingin.
Hh…apa tidak terbesit sedikitpun di hatinya, untuk ……Hh…….Ya Allah bagaimana aku harus menghadapinya, mengapa seperti ini, mungkin ini saatnya aku meluruskan duduk perkaranya.…melihatku terdiam, Ia beranjak pergi.
“Bang, tunggu !!…Abang benci ya sama Naf ?”
“Maksudmu?”Bang Fahran mulai bimbang.
“Iya..Abang benci kan sama Naf ?Abang tidak suka kalau Naf ingin melakukan sesuatu untuk Abang. Yang Abang sayang cuma Ibu, Dik Nia, dan bunga-bunga itu saja, tapi dengan Naf, Abang berusaha menganggap angin lalu.”
“Dik………..”
“Bang, jangan menghukum Naf seperti itu,..Abang seharusnya bilang, kalau Naf memang punya salah atau sikap Naf yang kurang berkenan,…Abang jangan langsung bersikap dingin begitu……”
“Adik……”
“Begitu besarkah rasa benci Abang sampai menyebut nama adik sendiri saja tak mau, begitu membelenggukah sampai kata terima kasih dan sedikit perhatian pun tak bisa Abang curahkan ?”
“Dik….”
“Abang bisa mengerti perasaan Naf..?”
“Adik, mungkin memang Abang yang salah, tapi ini semua demi Adik, Abang pikir Adik sudah cukup mengerti dengan sikap Abang, sehingga tidak akan jadi begini……..”
“Apa maksud Abang?”Aku bertambah gundah, namun aku lega, kata-katanya mulai lunak…
“Selama ini Adik memang begitu baik, Adik selalu membantu Abang, Adik selalu berbakti pada Abang, Adik tak pernah menyakiti hati Abang, Adik tak pernah menyusahkan orang lain……..”
“Lalu kenapa Abang membenci Naf ?”
“Adik…..Adik bisa dibilang peri yang sempurna, kebersihan dan kebaikan hati Adik mencerminkan keindahan, tapi satu yang belum Abang temukan dalam keindahan itu,………Tulus.”Abang meninggalkan aku dalam galau yang memuncak, sedih, temaram, luluh, dan hilang…..
Aku merenungi segala yang ia ucapkan…..Aku galang iman dan kekuatan hatiku….sampai….kata Tulus. Kini aku mengerti, apa yang Dik Nia berikan, apa yang mereka curahkan dan yang tak kumiliki, selama ini aku hanya menanti harapan untuk kembalinya apa yang kuberikan, selama ini aku hanya berfikir tentang kewajiban, segala yang aku persembahkan untuk Abang dan orang-orang yang aku sayang, seberapapun itu, pasti akan terasa hambar. Tanpa adanya satu kata yang menjadi makna..
Sikap Abang yang dingin dan datar yang dipaksakan merupakan ungkapan ketulusan yang tertutup, Ia tulus menyayangiku, dan ingin aku sadar akan segenap pola pikirku. Kini akan kucurah isi hatiku dalam untaian kata, yang akan kupersembahkan kepada Abang, aku persembahkan makna kata yang ia nanati selama ini, aku persembahkan kata yang hilang dari setiap karyaku, satu makna kata ….Tulus……….untuk Abang..
***
Di atas meja berdebu, di samping monitor lawas, di hadapan foto Ayah……selembar kertas dengan tulisan apa adanya, ungkapan jujur dari lubuk hati seorang gadis, rapi dan bersih, tinta merah yang selalu menghiasi tak tampak, digantikan….sekuntum White Moon Orchids.

My Short Story : Pelita Cinta Terbias Seirama





“Cobalah saling melengkapi…”. Itu pesan ibu yang terakhir, sebelum beliau menuju taman indah itu, dan tak berniat menapakkan kakinya lagi, menemani kami. Tapi bagaimana bisa ? Apa yang kumiliki, ia pasti punya, segala yang kubisa, dia pasti sanggup, apa yang dapat kuraih, dia pasti mampu meraihnya…terkadang memang menyenangkan, tapi sering menyebalkan. Memang sewajarnya, orang yang terlahir bersama memiliki kesamaan, orang-orang yang memandang pasti kagum, tapi pihak yang dipandang, entahlah…Untuk sekilas, tak ada yang bisa menganalisis siapa kakak dan adik, yang jelas dilihat mendetail pun tak ada yang bisa memungkiri bahwa kami memang identik.
Muhammad Arham Syahfariz, berwibawa, manis, kocak, baik dan berbakat. Semua orang mencintainya, segan, dan bangga, namun satu yang mulai merasa tak nyaman di dekatnya, yang serupa dengannya, kerap menyisakan kerak di hatinya, bukan orang lain, hanya makhluk yang pernah menjadi bagian darinya, pernah menyatu dengannya, Muhammad Arfan Hanafi…kurang lebih memiliki karakter sepertinya.
Pendiam bukanlah tabiatku, agaknya ia tahu…atau mungkin malah merasakan, muncul 3 pilihan di benakku, pertama mencurahkan isi hatiku padanya, kedua mengadakan rapat dadakan malam sabtu, dan menuliskan masalah ini pada agenda utamanya, terakhir membiarkan rasa dan karsaku lenyap tergerus pikiran bodoh ini. satu….terlalu jujur dan terbuka, dua…merepotkan pihak yang sudah lelah mengurus masalah lain yang justru lebih penting, tiga…untuk apa menyiksa diri. Lima, Empat, Tiga…Satu……DUA, aku pilih yang kedua, lebih efektif dan efisien, sedikit merugikan pihak lain, namun meminimaliskan efek samping. OK.
Agaknya ia mulai curiga melihat lirikanku yang aneh, senyumanku yang penuh arti hitam, dan gelagatku yang menjengkelkan. Tak tahan ia bertanya
“ Dik, aneh sekali kau hari ini…….”
“ Perhatian sekali Kakak, eh…”
“Hm…, apa?”
“ Malam Sabtu ada rapat dadakan, ada masalah genting.”
“Siapa yang putuskan? Apa topiknya?”
“Ya aku lah. Wajib datang !!”
***
Sungguh tak biasa, bintangku tak muncul menghiasi dunia lebar di atas sana, padahal hanya dia yang kuandalkan, apa mungkin ia jenuh, atau merasa lemah, hingga pijarnya tak lagi bisa menembus kepulan asap yang menyesakkan baginya, atau bagiku, mungkin juga bagi kakak. Paman mendatangi bapak lagi, tak pernah bosan, tujuannya memang mulia, aku salut. Paman Iqbal memang perhatian, ia tak mau hanya ia yang menapak di jalan halus yang penuh kehidupan itu, ia ingin mengajak kami bertiga. Yakin bahwa bapak akan berhasil di kota sana, yakin akan kehidupan kami yang akan membaik. Dan lagi, bintang itu meredup saat kubuka mataku, bapak menolaknya dengan alasan berdasar cinta, cinta akan tanah kelahiran, cinta pada ibu dan segala indah kenangan, sekali lagi paman tak menyerah.
Aku ingin menegur bapak namun tak sampai, memandang keras perjuangannya, menilai tulus cintanya, merasakan sejuk kasihnya, yang bisa kulakukan hanya…
“ Paman datang lagi Pak?”
“ Ya, sungguh bulat tekadnya itu, Bapak jadi tak enak.”
“Kenapa Bapak selalu menolak paman?”
“Kamu kan sudah tahu jawabannya Fan, itu alasan yang kuat.”
“ Tapi kita bisa lebih baik kalau ikut paman.”
“ Secara materi mungkin, tapi secara nurani, Bapak tak yakin.”
“ Baiklah.”
Aku sendiri yang menutup tukar kata yang ringkas namun berkesan itu, diam jadi pilihan utama, tak ada yang bisa dikatakan dari seorang anak yang yakin akan cinta orang yang ia cintai, yang mampu menutup rasa sesal itu. Sesal yang membuat hidup kami terkadang terasa berat padahal ada yang bisa meringankan.
***
Tiga kursi tertata sedemikian rupa, bohlam 5 watt di tengah ruangan melancarkan jalannya rapat dadakan, sinar bulan yang menembus dinding transparan berbingkai kayu itu menambah nyaman. Agenda pertama, ini saatnya, aku membuka mulut, semua mata tertuju padaku. Kuutarakan masalahku. Kumulai dengan sikap dan perhatian orang-orang pada kakak dan aku, respons mereka terhadap keidentikan kami, rasa acuhku yang tak bisa kupertahankan, dan rasa jenuh karena selalu dibanding-bandingkan, terakhir dengan pesan ibu yang terakhir itu.. Kakak juga merasakan hal yang sama denganku, hanya saja ia lebih pandai menyembunyikannya. Tinggal respons bapak yang kutunggu.
“ Bapak mengerti, tapi cukuplah kalian seperti sekarang, tak usah neko-neko, biar hidup berjalan dengan lancar.”
“Bagaimana bisa Pak? Kami sudah cukup bersabar menghadapi orang-orang itu, tetap saja kami merasa tak nyaman kalau begini terus,”giliran kakak yang angkat bicara.
“Kembar memang kembar, tapi tak harus disamakan seperti ini.”
“lalu apa yang akan kalian lakukan?mengubah diri kalian agar terlihat berbeda, walaupun sampai menghilangkan jati diri kalian?”
“ Bagaimana lagi Pak?”
“Ah… kalian kan sudah dewasa, setiap orang punya jalan pikiran tersendiri, termasuk orang yang terlahir identik.”
“Aku tak mengerti Pak?”
“Ya sudah …tunggu sampai waktunya tiba.”
Sampai jam 10 malam, rapat bubar, aku dan kakak masih bingung pada jawaban Bapak, aku tak mengerti sama sekali, harus menunggu waktu yang tepat, kapan waktu itu tiba? Apa yang harus kulakukan sampai waktu itu tiba? Ah…berat sekali…
“Dik, apa yang kau pikirkan?”
“Memangnya apa menurut Kakak?”
“Pasti nasihat bapak kan?”
“Hm… Kakak mengerti?”
“ Entahlah,..tapi suatu saat kita akan mengerti.”
“Kakak kan yang lebih tua, seharusnya tahu lebih banyak.”
“Hei, Kakak Cuma lahir 5 menit lebih dulu darimu…”
“Ya…eh..Kak, kenapa ya kita bisa sama?”
“Tanya saja pada dirimu sendiri! Kenapa kita tidak berbeda?”
“Bisakah kita buat diri kita berbeda, untuk saling melengkapi ?”
“Maksudmu?”
“Yah…mengubah diri kita agar tidak banyak kesamaan.”
“Tentu saja bisa, tapi kau dengar bapak melarang kita tadi?”
“Sedikit berubah tak apa, lagipula ini kan demi amanat ibu?”
“Bagaimana ya…”
“Apa Kakak masih bisa tahan kalau kita dibanding-bandingkan lagi? Apa Kakak belum bosan?”
“Entahlah…..”
“Ah…kata itu lagi, Kakak ini harusnya tegas, kita sudah dewasa, sudah hampir meninggalkan pakaian putih abu-abu itu, kita harus bisa bertindak, ga’ Cuma menunggu waktu..”
“Hm…”
“Tanggapan macam apa itu, dimana wibawa Kakak?”
Aku mulai marah, kesal karena dianggap remeh oleh kakak, kesal karena ia tak mau membantuku.
“Ya…Ok.”
“Apa maksud Kakak?”
“Ya…Okelah.”
***
Kami benar-benar melakukannya. Sedikit tak nyaman memang, tapi mungkin saja bisa berakibat baik bagi perasaan kami. Seruling bambu itu, sudah tua, makin halus karena sering disentuh, tapi mulai usang, debu-debu tak segan lagi untuk menempel, atau mungkin malah sudah menutup fentilasinya, tapi tetap kami simpan di tempat yang menurut kami cukup terhormat, disamping foto ibu, di lemari bagian atas.
Hadiah ulang tahun dari bapak untuk kami berdua di ulang tahun yang ketujuh, entah bisa dibilang ulang tahun atau bukan, bapak dan ibu lupa mencatat tanggal kelahiran kami, ah…bukan lupa, tapi memang waktu kami lahir belum banyak orang menggunakan kalender di desa terpencil ini, waktu hanya berdasarkan posisi bulan, bagaimana dengan akte? Bapak hanya asal, menurut apa yang diberi tahu paman, tapi sama sekali Bapak tak memperhatikan deretan angka itu, baginya alamlah yang menjadi tanda, bukan hitungan yang dipikirkan manusia dan inilah maknanya, kami lahir tepat bulan separuh yang terapit gugusan- gugusan bintang membentuk sungai langit, panjang, terang, menuju lembah cahaya…indahnya saat itu, mewah sekali iringan-iringan yang merayakan kelahiran kami, sambutan alam yang takkan bisa terlupakan. Setahun menjelang, saat panorama itu terlukis lagi di langit, selesailah seruling bambu itu, kokoh dan eksotik, walaupun polos tanpa hiasan, satu untuk berdua.
Saat kecil, aku dan Kakak memainkannya secara bergantian, menirukan setiap rangkaian nada yang singgah di indra pendengar kami, semakin sering nada-nada itu menjadi bagian dari hidup kami, nada-nada lembut, klasik, tak berlebihan. Itulah aliran musik kami, aliran baru yang kami sepakati, jazzy slow pop.
Berdasarkan hasil diskusi singkat dengan kakak tadi malam, kakak membagi pola kebiasaan-kebiasaan kami, bagian mana yang harus mengalami perubahan. Salah satunya adalah aliran ini…
“Bukankah aku yang mencetuskan aliran itu ?”
“Tapi yang mengajari Adik musik-musik itu kan Kakak.”
“Tetap tidak bisa, aku yang berperan membuat sejarah aliran itu, aku yang rajin meraba-raba musik-musik yang Kakak gemari itu…”
“Tetap saja Kakak yang berperan utama memperjuangkan aliran itu Kakak, Kakaklah pemimpinnya.”
“Aliran yang beranggotakan dua orang tak perlu pemimpin, lagi pula ada apa dengan aliran ini sampai Kakak harus memperjuangkannya?”
“ Tapi tetap saja Kakak yang berhak bertahan, Kau…ganti!”
“Jangan seenaknya begitu, walaupun Kakak melarangku, aku tak mau ganti aliran, mengerti?”
“Tapi…”
“Titik habis.”
“Hei…”
“Stop”
“Baik, aliran ini pengecualian…”
“Bijaksana, …”
Dan begitulah, kami tak pernah mencapai kesatuan, setiap hal yang Kakak pilih, berat kutinggalkan, setiap hal yang kupilih, Kakak tak mau menurutinya, setiap hal…aku menyerah…Kami mainkan seruling itu bergantian, irama lagu…sendu, bimbang, hilang…
***
Suara berderit gerendel pintu tua yang mulai lapuk itu, merusak lamunanku, aku tersadar, mendengar suara lain yang mulai membuatku terbiasa, hembusan nafas yang sesak, tertahan pahitnya hidup, udara sulit ia hirup dan hembuskan, Bapak terserang astma, akhir-akhir ini ia paksakan bekerja larut, tanggal tua, order almari sepi, terpaksa bapak merangkap sebagai buruh tani.
Aku menegur Bapak, seandainya kami pindah ke kota, pasti tidak akan kesulitan kalau hanya sekedar menghilangkan penyakit penambah penderitaan. Seperti biasa, Bapak bersikap tenang, jawabannya masih sama, cinta. Bapak adalah orang desa asli yang terkesan idealis dan polos, namun beliau sangat menghargai arti sebuah anugerah, dalam nurani, beliau selalu berfikiran matang, tuturnya dalam, kata-katanya mengena.
Bapak mencoba menabahkan kami, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu pada bapak, tentang nasihatnya pada rapat lalu.
“Sudah Bapak bilang, tak usah neko-neko , sudah berapa lama kalian mencari perbedaan seperti yang kalian pikirkan itu?apa hasilnya? Tak ada bukan? Tunggu saja kalian pasti menemukannya, kalian memang harus ikhtiyar, tapi masih banyak hal lain yang lebih berarti yang harus kalian sentuh…”
Bapak benar, banyak waktu yang tersita untuk menunaikan niat mencari perbedaan, padahal hasilnya nol. Aku baru sadar, aku dan kakak  kurang memperhatikan bapak, kami tak lagi menjaganya, membantu pekerjaannya, atau sekedar menemaninya minum teh hangat, kini saat bapak sakit, aku malah membiasakan diri akan suara-suara yang keluar sebagai tanda derita yang kian bertambah,…Sudahlah aku hentikan niatku itu. Niat yang menjauhkanku pada orang yang sangat kusayangi, aku terlalu egois, aku salah langkah, seharusnya aku dengarkan bapak yang menyuruh kami menunggu, tak kan mungkin ada orang yang memiliki jalan pikiran dan kepribadian yang sama, atau minimal cara menafsirkan hal yang dirasakan setiap orang pasti berbeda. Aku salah langkah, tak heran bintang itu redup, tak heran sungai langit kian dangkal, mereka kecawa telah merayakan kelahiranku…
“Maafkan kami Pak.”
“Apa yang kau katakan? Tak ada yang perlu dimaafkan, bapak hanya orang desa, bapak tak tahu apa-apa tentang keadaan di luar sana, bapak tak mengerti hidup anak-anak seusia kalian, bapak tak pernah sekolah, yang bapak tahu hanya…bapak ingin kalian tak seperti bapak yang tak tahu apa-apa, bapak ingin setiap waktu kalian berarti.”
“Pak, kami salah langkah, kami terlalu memikirkan perasaan kami sendiri.”
“Biarlah, sungguh merupakan anugerah mempunyai putra serupa, bapak ingin kalian menerima diri kalian apa adanya, dan menerima cinta tulus dari orang-orang di sekitar kalian. Hm…mengerti?”
“Ya, kami mengerti. Tapi apakah semua orang mencintai kami seperti Bapak?”
“Menurutmu, apa itu mencintai?”
Kami tak tahu, Bagi kami segala yang bapak curahkan adalah cinta, segalanya…dan kami yakin bapak mencintai kami, tapi apa itu mencintai?
***
Kufikirkan hal ini kapan saja dan dimana saja, aneh memang, tak bisa mendefinisikan sesuatu yang kita rasakan, padahal sesuatu itu begitu jelas, nyata, dan dekat. Lagi-lagi aku mengulangi kebiasaanku, melamun memikirkan hal-hal yang mengganjal perasaan dan tak lalai menikmati secangkir teh jahe ditemani bulan purnama. Di bawah pohon kelengkeng aku duduk dengan nyaman, semilir angin tak mampu mengusik kegiatanku, tapi salam dari Paman Iqbal mampu.
Setiap kali paman datang, kakaklah yang selalu menyambut paling ramah, namun tak pernah kulihat kakak membahas tolakan bapak yang kesekian kali pada ajakan bahagia paman. Ini juga menjadi salah satu hal yang tak kumengerti, aku ingin menanyakannya, tapi tak pernah sempat, akhirnya aku tanyakan saja pada bapak. Ternyata benar, kakak tak pernah menyinggung hal itu, ia memilih diam, aku sayangkan sikap kakak yang kurang bijaksana kali ini. bukankah pindah ke kota akan membawa kebaikan. bukankah itu yang harus kita berikan pada orang yang kita cinta dan oh…aku mengerti, apa itu mencintai?mencintai adalah memberikan yang terbaik untuk yang tercinta.
Aku meneguk teh jahe kesukaanku penuh perasaan, aku ingin menikmati sensasi tetesan terakhir dari gelas usang ini, kulihat pemandangan seperti biasa, paman keluar dengan wajah muram sudah kuduga jawaban bapak, TIDAK. Lagi-lagi aku mulai terbiasa, aku masuk ke dalam memberi tahu bapak kalau aku sudah menemukan jawabannya.
Bapak mengulaskan senyum gembira, ada yang aneh…
“Mengapa Bapak tersenyum?”
“Pamanmu, ini yang terakhir ia membujuk bapak, mungkin sudah mulai lelah, tapi bapak kasihan juga.”
Kakak muncul dari balik tirai
“Paman itu sungguh baik ya…?”
“Benar, mulia sekali.”
Aku bingung,”Lalu mengapa Bapak berkali-kali menolak Paman dengan alasan yang sama?”
“Karena ada yang jauh lebih berharga dari itu semua.”
“Sudahlah Fan, itu sudah keputusan Bapak.”
“Kakak ini bagaimana? Apa Kakak tak mengerti perubahan yang akan terjadi pada hidup kita kalau pindah ke kota, pasti akan jauh lebih baik.”
“Kakak mengerti, tapi apa artinya semua itu kalau Bapak tidak bahagia?tak hanya materi yang membuat indah di dunia ini.”
“Bukankah kita selalu bersama?kita pasti akan bahagia kalau kita melakukan yang terbaik dalam hidup.”
“Kebahagiaan itu tak dapat diukur dengan besaran apapun”, termasuk kata terbaik.”
“Cukup. Apa kalian berdua menyayangi Bapak?”
“Tentu saja, sangat.”
“Tak perlu diragukan lagi, memang ada apa Pak”
“Itulah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kalian.”
“Maksud Bapak?”
“ Kalian telah dewasa, kalian telah menemukan perbedaan jalan pikiran masing-masing tentang arti cinta, tentang cara mencintai, dengan memberikan yang terbaik atau membuat yang tercinta bahagia, satukanlah keduanya, dan kau telah penuhi pinta ibundamu.”
***
Merdunya seruling bambu yang semakin halus, debu tak lagi menyumbat lubang-lubang udara yang menjadi sumber suatu ketentraman, menyambut dan merayakan lukisan alam yang terulang tepat yang ke tujuh belas kalinya, sungai langit mengalir menuju lembah cahaya, membawa pesan dari kami untuk membalas pesan terdahulu, kami telah saling melengkapi, melalui arti cinta yang kami yakini.

My Strange Short Story:LIVE BEHIND THE SWORD





Terkadang aku sungguh ingin membanggakan diriku, terbuat dari besi pilihan dari sebuah gunung yang tidak banyak diketahui orang, mataku tajam dan mengerikan, goresanku sangat halus namun menyakitkan. Aku dibuat dengan penuh ketulusan, sebagai hadiah dari seorang pemuda pada paman yang sering mengajaknya berlayar. Sebagai tanda kasih sayang yang tak terbendung, aku sungguh beruntung… sampai detik ini.
Ahn Mun Gi selalu memandangku dengan takjub, seakan hanya aku satu-satunya mahakarya, namun itulah sumber dari segala kutukanku pada diri sendiri, dia tidak memperhatikan bajunya yang terlalu longgar, sebagian lengan terbakar saat memberikan ulasan terakhir sebagai gagangku. Karena terkejut ia jatuhkan si mahakarya, gagangku cacat, namun entah mengapa aku tak menyadari apa yang akan terjadi kemudian. Paman Kim Mun Jae memanggilnya dengan terburu-buru, tanpa pikir panjang dia meletakkanku. Saat ini kesombonganku belum luntur, walapun gagangku tak sempurna, aku masih mempunyai mata tertajam dan goresan terhalus.
Mun Gi masuk dengan tergesa-gesa, ia sudah berganti pakaian dan senyum tak lepas dari wajahnya. Tanpa basa-basi ia menyambarku, memasukkan dalam kotak yang sudah dipersiapkan sebagus mungkin.
“Aah…. Celaka, tanganku.”
Belum apa-apa, bukan pengabdian yang kuberikan, aku sudah melukainya
“Mun Gi, sedang apa kau, cepat bergegas.”
”Sebentar Paman….. Hei ternyata kau lebih tajam dari yang kukira, Pamanku pasti senang. Tapi ah… sakit sekali..”
”Mun Gi………………..”
”Iya Paman. Aduh untuk mengangkat kotak saja sakit sekali.”
###
Dia meletakkanku di kotak yang sangat indah, lihat betapa berharganya aku. Namun mengapa guncangan semakin keras, apa yang sedang terjadi di luar sana. Hanya pikiran konyol, semua pasti akan baik-baik saja, aku akan mengabdi pada tuan yang tepat dan Mun Gi tidak akan pernah menyesal telah membuatku.
”Paman, kenapa langit tiba-tiba gelap….”
”Beginilah seharusnya berlayar, penuh tantangan….”
”Tapi……..air mulai naik paman.”
”Benarkah?? Mun Gi lihat jauh ke depan, banyak karang di sekitar sini, tarik layar kuat-kuat……”
”Aku tidak bisa Paman, hujannya lebat sekali.”
”Mun Gi cepat tarik layarnya… ada karang di depan.”
”Pamaaan…..Ahh… tanganku terluka,Paman tolong bantu”
”Berjuanglah Mun Gi…….”
”Sakit sekali, aku tidak kuat paman……..”
”Mun Gi……”
Terlambat, kapal menabrak karang, dan itulah teriakan terakhir yang menghancurkan semua harapanku. Luka dariku akan menjadi seperti ini, ahh apakah aku lahir dengan kutukan?? Apakah sebenarnya aku memang bukan Mahakarya? Atau aku hanya hasil yang cacat yang mencelakakan penciptanya sendiri. Entahlah, sekarang siapa yang akan menjadi tuanku, atau aku hanya akan tenggelam dan menjadi penghuni dasar lautan.
###
”kapten, sepertinya ada kapal yang baru karam…..”
”Coba lihat mungkin ada yang berharga…”
”Baik….”
”Hei coba ambil kotak itu, kelihatannya menarik.”
”Isinya…. pedang. ”
”Hah, pedang cacat seperti itu, sama sekali tidak berguna.”
” tapi lihat kapten, sangat halus dan tajam, sayang kalau dibuang. ”
”Lalu mau diapakan…..”
”Ambil saja kalau kau mau.”
Hujatan, hujatan dan hujatan. Aku kira aku sungguh mahakarya, tapi ternyata hanya pedang cacat yang sering melukai tuannya sendiri. Sekarang mana berani aku bermimpi tentang apa yang akan terjadi, semua sungguh diluar kemampuan, bahkan mungkin untuk sekedar berharap saja tak pantas.
Seiring waktu aku berusaha memahami tuanku, yang kulihat hanya laut dan darah, mereka membajak kapal-kapal pedagang dan bangsawan, menumpahkan darah di setiap kapal, merenggut semua barang berharga. Dan inilah takdirku, dipaksa melakukan tugas mengerikan dan setelah selesai apa yang kudapat, makian dan hujatan. Ini lebih buruk daripada menjadi penghuni dasar laut, yang setidaknya aku bisa bermanfaat sebagai sarang terumbu karang.
Aku melihat kapal yang paling indah, aku merasa takjub dan sedih, sebentar lagi gemerlap kapal itu akan sirna diganti teriakan dan berliter darah. Meski tak pantas aku ingin terus berharap nasibku akan berubah. Pembajakan segera dimulai, ternyata itu adalah kapal Raja yang agung, dengan beringas mereka membunuh setiap pengawal, jumlah yang seimbang membuat pertarungan kian sengit, apalagi baginda disertai beberapa orang dengan keterampilan pedang memukau, seandainya salah satu mereka adalah tuanku. Ah pikiran konyol, mana mungkin ada yang mau.
Aku tertancap di dasar tiang layar, sungguh aku merasa lega, dua belas nyawa sudah melayang karenaku, cukup semoga itu yang terakhir. Tiba-tiba seorang pria setengah baya terdorong ke arahku, dia berusaha meraba sesuatu, sambil menghindari tebasan hiruk pikuk kapten bajak laut. Tidak lama ia bisa menghindar, pedang berjarak lima senti dari perutnya, kontan dia menyambarku, satu jantung lagi kutikam, lengkap sudah tiga belas nyawa. Melihat sang kapten rubuh, awak kapal terpojok,
”Jatuhkan senjata kalian sekarang….”
”Sekarang….”
”Jangan paksa kami tumpahkan lebih banyak darah…..”
Aku melukai tangan Baginda, tapi beliau malah memberi senyuman yang begitu tulus ke arahku, yang sudah lama tidak……., semoga Baginda mau menjadi tuanku, dan semoga senyuman beliau tidak berakhir seperti Mun Gi.
###
Kali ini yang tampak adalah bangunan begitu megah dan sorak sorai yang menggema, rakyat menyambut keselamatan Raja Go Seom Yong.
”Segala hormat kami untuk Paduka…….”
”Terima Kasih, doa kalian yang menyelamatkanku.”
”Anakku Geun Mo, ikutlah bersamaku.”
”Baik Ayah……..”
Paduka Raja menceritakan apa yang terjadi kepada Pangeran, sedangkan tangan yang terbalut kain menggenggamku erat.
”Pedang ini menyelamatkanku………..”
”Ya Ayah.”
”Maukah kau menjaganya, menjadi tuannya…..”
”Tapi… pedang itu juga melukai Ayah.”
”Apa arti sebuah luka dibanding sebuah nyawa?”
”Tapi….. Ah Ayah, aku ingin menemui guru dulu.”
”Anakku,,,,”
”Anak mohon diri Ayah..”
Aku tidak mengerti, satu sisi aku tersanjung Paduka yang selalu menghargaiku, namun mungkin saja nanti aku tidak akan memiliki Tuan.
”Paduka, mungkin Pangeran belum siap menerima pedang ini.”
”Tapi pedang ini sangatlah berharga, lihat saja ketajaman matanya, aku yakin dia dibuat dengan sangat tulus.”
”Lalu Paduka….”
”Pengawal istana, sungguh aku ingin anakku sendiri yang menjaganya.
Walaupun ada sedikit bagian kurang sempurna, tapi sungguh….”
”Saya mengerti Paduka.”
###
Tahun sudah berganti, aku lewati hari bersama paduka, apakah sekarang aku sudah pantas membanggakan diri? Yah mungkin sudah.
”Pengawal, taruh pedang itu di gudang senjata. Ah tanganku sakit sekali.”
”Baik pangeran……”
Ternyata keadaan berubah begitu cepat. Sudahlah, paling tidak disini aku bersama teman-teman yang serupa.
###
”Sampai kapan kita harus terus begini?”
”Yaah, setiap malam berlatih panah, setiap pagi memanggul gandum, siang hari lari bermil-mil, hancur badanku.”
”Belum lagi ocehan komandan….”
” Kalau yang itu salahmu sendiri, tinggal menikam boneka jerami saja kenapa mesti berpikir lama.”
”Ahh… jika berlatih pedang aku berusaha konsentrasi. Tapi lama-kelamaan malah gugup, jadi tidak tepat.
Ah sudahlah, yang penting aku ingin segera meninggalkan tempat ini.”
”Apa kau sungguh-sungguh Yong Eun?”
”Heh…. memang ada jalan keluar?”
”Di belakang gudang senjata. Beberapa pengawal istana sering menggunakan jalan itu untuk pergi ke tempat hiburan.”
”Kau serius Jin Kang?”
”Tapi pengamanannya agak sulit ditembus, sebaiknya kita bersembunyi dulu di gudang senjata.”
”Baiklah, nanti malam segera bersiap.”
”Kenapa…. buru-buru sekali?”
”Apa kau tidak ingin cepat kabur dari sini? Kau mau mendengar ocehan komandan tiap waktu?
”Yang sering mendapat ocehan bukannnya Cuma kau?
”Sudahlah, segera bersiap.”
Malam menjelang, beberapa orang datang kesini adalah hal yang biasa, mereka mengendap-endap lalu menghilang, kembali lagi menjelang fajar. Tapi keempat orang ini sungguh asing. Dua orang menggunakan logat yang tidak biasa, siapa mereka? Sedangkan yang dua lagi membawa bungkusan, ah aneh sekali. Mereka tidak saling melihat.
”Sst Jin Kang, tunggu sebentar. Sepertinya ada yang lain disini.”
”Benar, dua orang itu, apa mereka melihat kita?”
”Entahlah….”
Dua orang yang membawa bungkusan tidak sengaja terbentur gagang tombak. Dua orang yang berlogat aneh terkejut, dan bersiap menghunus pedang.
”Siapa kalian?”
”Hah… ternyata hanya dua prajurit bodoh.”
”tapi jika dibiarkan hidup akan berbahaya.”
”Logat yang aneh….Jangan…. jangan… kalian penyusup dari Kuk Sang?
”Hah… bagaimana ini?”
Karena merasa dikenali, penyusup berusaha membunuh dua prajurit itu. Yong Eun segera menyambarku, dia selalu gugup jika memegang pedang. Tapi terkejut karena tangannya terluka langsung saja ia melemparkanku ke arah penyusup, dan lagi-lagi darah tercecer olehku. Yang bernama Jin Kang rupanya lebih mahir, dia memutar tombak ke segala arah, Yong Eun melemparkan segala benda ke arah penyusup yang masih hidup, menimbulkan keributan. Lebih dari sepuluh prajurit mendobrak masuk. Menangkap penyusup. Meskipun gagal melarikan diri, ada sedikit rasa bangga di hati Yong Eun dan Jin Kang, mereka merasa menyelamatkan negara.
SekarangMereka lebih sering mendapat perhatian komandan, dan Yong Eun tidak gugup lagi memegang pedang, tidak berlama-lama jika ingin menikam, karena jika ia berlama-lama, tangannya pasti akan kulukai.
###
Semua menyambut panglima perang yang baru, tuanku Yong Eun, namun ada yang teriakannya tidak sesemangat yang lain, siapa lagi kalau bukan Jin Kang. Selama ini mereka selalu bersama, bahkan berniat kabur bersama, jika bukan karena ia mengajak Yong Eun ke gudang istana, Yong Eun tidak akan bertemu denganku dan menjadi terkenal seperti saat ini. Tikamannya cepat dan tepat, menjadi yang terdepan di saat perang. Sekarang Yong Eun menjadi panglima sementara ia sendiri tetap sebagai prajurit, padahal dulu kemampuannya lebih cakap.
Setiap kali pujian yang ia dengar tentang panglima, Jin Kang selalu memendam marah, semakin lama semakin menumpuk hingga hati nurani tidak bisa lagi menahannya untuk memusnahkan Yong Eun. Berulang kali aku membentur tombak Jin Kang, semakin lama aku tidak bisa bertahan lagi, kesempatan sesaat diambil Yong Eun menikam Jin Kang, dengan sisa tenaga Jin Kang juga menghujamkan tombak ke arah perutnya. Yong Eun langsung mencabutku dan menangkis tombak, aku mencoba kuat, tapi aku sungguh tak bisa, tenaga yang disertai kebencian jauh melebihiku, tombaklah yang menang dan terbenam lurus di lambung Yong Eun. Jin Kang juga ambruk.
Seorang pengawal istana melapor pada komandannya mengenai pertumpahan darah, Sang komandan begitu terkejut. Ia memerintahkan anak buahnya menguburkan Panglima dan prajurit, ia sendiri memungutku dengan hati hati, ternyata ia masih mengenaliku. Ia membawaku ke seorang pandai besi yang terbaik, jauh dari istana, untuk menyambungkanku yang terbagi.
###
Aku berada di tangan yang tepat, kini aku tidak lagi melukai tuanku, seorang pemuda yang selalu bersemangat mengayunkanku kesana kemari. Ia genggam erat seakan ia ingin kita bersama selamanya. Ia begitu takjub memandangiku saat komandan pengawal berkata bahwa aku patah karena menahan tombak yang akan menusuk Panglima. Ia selalu tersenyum saat mengayunkanku. Komandan pengawal istana kembali, kali ini tidak sendiri, bersama Paduka yang sudah lanjut usia. Paduka terkejut karena bukan pangeran yang merawatku selama ini, dia tidak mengira rumahku adalah gudang senjata usang, dan menjadi saksi pembunuhan panglima. Yeon Hoo anak padai besi, dengan berani mengatakan pada Paduka, ia ingin menjadi tuanku. Awalnya Paduka menolak, namun ia juga tidak ingin penyelamatnya jatuh di tangan orang yang tidak tepat. Yeon Hoo tersenyum lebar, lihatlah Paduka aku bersama orang yang tepat, ia seperti Mun Gi, seperti Paduka juga. Lihat pula genggaman dan kesungguhan hatinya, sekali aku bertemu tuan yang begitu sulit kuungkapkan.
Ia membawaku ke puncak gunung, membagi mimpinya denganku.
”Lihatlah…… bersamamu aku akan menjadi Ahli Pedang sejati. Tak kan kubiarkan seorang pun meneteskan air mata, tak kan kubiarkan seorang pun menggunakan pedang hanya untuk melukai, semata karena ia mampu. Takkan kubiarkan seorang pun merendahkan harga dirimu, membunuh tanpa sebab yang jelas……
Kau akan menjadi temanku dan hanya menumpahkan darah untuk negara. Jika aku tidak mampu lagi menjadi tuanmu, aku tak lagi mampu membesarkan negara kita dengan perang, aku akan menjadikanmu sumber penghidupan, menjadi alat pertanian, jauh lebih berguna dari sekedar menumpahkan darah. Karena kita, tidak ada lagi orang berteriak kelaparan, kita segarkan udara agar orang mampu bernafas dengan nyaman, kita perindah dunia dan mengembangkan senyuman di setiap wajah.”
Itu adalah mimpiku juga
”Maaf jika kau sungguh tak berkenan dengan mimpiku, tapi aku ingin selalu bersamamu. Dan jika aku bagi mimpiku padamu, rasakanlah…. milikilah… perkenankan aku selalu menggenggammu erat. Jadikan semua ini mimpimu juga.”
Terima kasih, sepenuhnya aku adalah untukmu. Kau bukan hanya pemuda biasa, pemuda yang istimewa. Kini aku kan lupakan harapanku yang dulu, yang semula ingin menjadikan para ahli pedang kepercayaan istana sebagai tuanku, tidak, aku tidak ingin lagi. Aku ingin bersamamu, karena mimpimu, penghargaanmu jauh melebihi mereka. Yoen Hoo,…
###
Bukan hanya kebahagiaan yang aku bawa untukmu, namun juga petaka. Wang Bin, putra Yong Eun mengetahui bahwa sebenarnya penyebab dari kematian ayahnya adalah aku. Yong Eun selalu mengeluhkan sikap Jin Kang padanya, menceritakan kebencian Jin Kang padanya, dan juga padaku. Kecerdasan Wang Bin lebih dari cukup untuk sekedar memahami motif pembunuhan ayahnya, tidak sulit pula menemukanku, karena saat itu dia adalah kepercayaan komandan pengawal istana. dan tidak ada lagi yang bisa ia salahkan, hanya aku yang tersisa. Tidak ada lagi yang bisa menerima dendamnya, hanya tinggal aku.
Wang Bin berusaha merebutku dari Yeon Hoo, tapi kami sudah membagi mimpi, Yeon Hoo selalu mempertahankanku, ia selalu berlatih di gunung yang tinggi, di tepi jurang, demi meningkatkan kemampuan, demi melindungiku.
”Yeon Hoo, aku tidak butuh nyawamu. Serahkan saja pedang terkutuk itu padaku…”
”Kau… keterlaluan sekali, kenapa melimpahkan dendam kepada sebuah pedang.”
”Jika bukan karena pedang itu, ayahku tidak akan mati…”
”Pedang ini patah karena melindungi ayahmu……..”
”Tahu apa kau, cepat serahkan pedang itu. Jika saja ayahku tidak menemukan pedang itu, ia akan tetap menjadi prajurit, namun ia juga tidak akan meninggalkanku.”
”Kau bodoh…. memang apa yang akan kau dapat jika sudah menghancurkan pedang ini?”
”Cepat serahkan saja……..”
”Tidak semudah itu, dia adalah bagian dariku. Bunuh aku jika kau ingin miliki dia.”
”Bodoh, kau lebih menghargai pedang dibanding nyawamu sendiri. Baiklah sebelum fajar aku akan menunggu disini. Kita bertanding….”
”Aku…… akan berusaha.”
”Pedang itu akan kuhancurkan hingga tak ada lagi jejaknya.”
###
Mentari belum terbit, hawa dingin masih menusuk tulang, Yeon Hoo memasang kuda-kuda. Wang Bin memiliki pedang yang jauh melebihi aku, besi terbaik, tempaan yang bukan sembarangan, keunggulannya begitu terasa saat kami berbenturan. Namun Yeon Hoo terlalu lincah untuk dikalahkan dengan mudah, tidak sia-sia ia berlatih begitu keras. Pertandingan ini sangat lama, mereka berdua tidak menyadari beberapa orang mengintai.
”Hei anak muda……….”
”Siapa kalian?”
”Permainan pedang yang bagus….”
”Siapa kalian?”
”Lebih baik jangan buang tenaga percuma, ikutlah menjadi bagian kami. Imbalannya sangat memuaskan.”
”Jangan ganggu pertandingan ini.”
”Bergabunglah dengan kami, kalian tidak akan menyesal.”
”Apa maksud kalian?”
”Jika kalian mau melindungi kegiatan pertambangan di dalam hutan sana.. akan ada 5 keping emas setiap harinya.”
”Manfaatkanlah kemampuan pedang kalian…. daripada membuang waktu.”
”Pertambangan, memangnya…….. jadi kalian menambang secara liar.”
”Liar..?? Hah, pemilik semua orang negeri ini tidak tahu ada emas disana.”
”Jadi…. kalian, jangan bilang kalian dari Kuk Sang…”
”Kenapa ?? sudah bergabunglah dengan kami.”
”Kami bukan penghianat negara….”
”kami tidak sudi bergabung.”
”Hah… bicara begitu apa tidak sayang nyawa?”
”Ayo hadapi kami.. lebih baik mati daripada menjadi penghianat negara”
Beradu pedang juga tidak membantu, selain kalah jumlah juga kalah kemampuan, Pedang Wang BIn terlempar. Akhirnya Yoen Hoo dan Wang Bin memutuskan melompat ke jurang. Orang-orang itu mengamati sebentar lalu meninggalkan tempat itu diiringi tawa. Mereka tidak menyadari, aku tertancap di tanah berbatu, menahan Yeon Hoo yang menggenggam tangan Wang Bin. Perlahan ia merambat ke atas, mengerahkan semua tenaga, aku dalam kondisi yang sangat sulit. Kaki Wang Bin berhasil meraih sebatang pohon, mendekatkan ke tangannya, ia genggam dan melepaskan tangan Yeon Hoo. Beban berkurang, tangannya yang bebas menyambar batu, mengangkat tubuhnya naik, Yeon Hoo selamat, kemuadian menarik Wang Bin ke atas. Batu yang Wang Bin pijak terlepas, Yeon Hoo mengulurkanku…
”Raih pedang ini dan tancapkan, genggam erat untuk menopangmu.”
”Tapi….”
”Tancapkan cepat,….”
Mereka berdua berhasil selamat.
”Terima ….Kasih…”
”Itu sudah seharusnya, menghela nafas sebentar lalu kita lanjutkan pertandingan.”
”Pedang itu…. ”
”Dia adalah seorang penyelamat, menyelamatkan Paduka, Panglima, dan….kita berdua.
Yang jelas tidak akan kuserahkan padamu, jadi bagaimana?”
”Hah…. sudahlah, pedang itu juga sudah menyelamatkanku. Miliki dan jaga baik-baik. Kau benar, pedang itu tidak pantas menerima dendamku, bagaimanapun pedang tergantung pemiliknya. Jaga baik-baik.”
”Berarti tidak ada alasan untuk bermusuhan. Kita teman…”
”Yahh, Selamanya teman.”
”Hei, kita harus cepat memberi tahu paduka.”
”Kau benar, ayo kita bergegas.”
###
Yeon Hoo dan Wang Bin menjadi sahabat baik, berusaha saling memahami satu sama lain. Mereka berdua melaporkan penambangan di hutan tapi tidak mendapat perhatian Pangeran Geun Mo yang sudah naik tahta. Yeon Hoo merasa putus asa, untuk pertama kalinya ia berusaha mengabdi pada negara, tapi tidak mendapat jalan. Wang Bin datang menghibur
”Hah apa yang harus kita lakukan sekarang?? Tidak ada yang mempercayai kita. ”
”Hei, sedang apa, merenung lagi?”
”Wang Bin, bisa-bisanya berkata begitu. Tak ada yang mempercayai kita”
”Sudahlah, kita akan berusaha lebih keras. ”
”Lebih keras??”
”Dan lebih cerdik, tenanglah. Kita melakukan kebaikan, pasti akan ada jalan. Aku janji, akan ada jalan. Heh, pedang terus yang kau asah…..”
”Dia ini teman hidupku, kita punya mimpi yang sama.”
”Ya, aku tahu itu. ”
Diam-diam Wang Bin memanfaatkan kedudukannya, ia menggalang prajurit tanpa sepengetahuan komandan, ia juga mengatasnamakan panglima Yong Eun. Ia tidak merasa bersalah, mungkin sedikit melanggar, namun itu demi kepentingan negara juga. Ia bersama prajurit yang mendukung penyerangan tambang, tanpa sepengetahuan Yeon Hoo. Namun pertambangan dijaga oleh orang berekemampuan istimewa yang tidak sedikit jumlahnya, banyak prajurit gugur, hanya Wang Bin dan 5 orang tersisa berhasil melarikan diri. Pengerahan prajurit secara diam-diam diketahui Raja dan dicurigai sebagai pemberontakan. Wang Bin dicopot jabatannya, kemuadian dijebloskan ke penjara. Ia sangat marah karena perjuangannya sama sekali tidak dihargai, akhirnya ia malah kabur dan bergabung dengan penambang Kuk Sang, menjadi salah satu pasukan pelindung.
Di Lain pihak Yeon Hoo sangat terkejut, selama ini dia memutuskan diam untuk mencari cara yang tepat. Ia berusaha mengintai penambang secara diam-diam dan menemukan Wang Bin sebagai bagian dari mereka. Awalnya ia mengira itu adalah bagian dari rencana Wang Bin tapi, Wang Bin benar-benar dendam pada negara. Sedih temannya kini adalah seorang penghianat.
Yeon Hoo menemui komandan pengawal istana yang mengenalnya, mengajukan diri sebagai prajurit. Ia melihat ada orang-orang yang memiliki kemampuan pedang istimewa, memiliki pangkat yang tinggi dan tidak sembarang orang mengenal mereka. Yeon Hoo ingin mereka membantunya menghancurkan pertambangan, yang sangat merugikan negara.
”Kau, seorang prajurit rendahan.. ingin kami membantumu?”
”Hei kau tidak tahu bahwa kami langsung di bawah perintah Raja, …”
”Tidak ada waktu melayani kebohonganmu… penambang Kuk Sang, orang-orang pelindung, omong kosong.”
”Aku bersungguh-sungguh, Tuan mohon bantuannya.”
”Sudahlah ayo kita pergi….”
”Aku bersedia melakukan apapun untuk itu, aku mohon….”
”Tunggu sebentar Sa Myeon,hei kau sudah berani bicara banyak di depan kami, kau juga berani meminta kami membantumu… hah itu patut dihargai.”
”Benar juga, begini saja, tunjukkan kesungguhanmu, baru kami akan bergerak.’
”Kesungguhan..??”
”Ya… Menjadi Berarti atau Mati. Artikan kalimat itu dan tunjukkan pada kami.”
Pada mulanya, Yeon Hoo ingin menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh ingin melindungi negara, dengan membunuh biang keonaran, perampok, dan sebagainya.
”Berjanjilah… kau selalu bersamaku. Bantu aku.”
Segalaku adalah untukmu Yeon Hoo. Seperti kembali pada masa lalu, meskipun aku lelah namun aku sudah berjanji, aku selalu percaya padamu, aku ikuti setiap gerakan tanganmu, namun benarkah ini jalan yang mereka inginkan. Aku coba hilangkan rasa ragu, tapi……Semoga yang kulakukan ini benar dan masih menjadi jalan untuk meraih mimpi kita, semoga lukaku memang benar demi negara. Berpuluh jantung kutikam dan darah kutumpahkan,tidak tahu mengartikan perasaan ku saat itu. Saat kau berhadapan dengan mereka, menunjukkan hasil kesungguhanmu, bukan bantuan tapi malah tawa yang kau terima. Maaf aku tidak bisa menunjukkan jalan yang benar untukmu.
”Jika itu yang kau anggap Berarti, Matilah saja kau.”
Yeon Hoo tidak tahu lagi bagaimana menunjukkan kesungguhannya, ia mulai merindukan Wang Bin yang selalu menghiburnya. Bagaimanapun aku selalu menyertainya, aku tidak bisa berbuat banyak, hanya mengabdikan kesetiaan padanya, tidak bisa menjadi teman sebenarnya. Sungguh jika aku adalah manusia, aku akan menjadi orang pertama yang mengucapkan kata penenang, mengucapkan janji penguat, dan menyediakan bahu untuk membagi beban. Aku selalu iri pada Wang Bin, yang dulu menjadi musuh namun sekarang adalah teman terbaik, Wang Bin yang berusaha melawan para penambang itu namun tidak dihargai. Ia juga tidak rela Wang Bin menjadi penghianat negara, seperti orang-orang yang kuhancurkan selama ini. Yeon Hoo dengan sisa keberaniannya, berusaha menemui Wang Bin, menyadarkannya dan membawanya kembali.
”Kau tidak mengerti betapa sakit saat perjuangan kita tidak dihargai. Saat kita berhasil lolos dari maut, demi negara, namun malah dijebloskan ke penjara.”
”Aku tahu itu, tapi bukan pilihan yang baik untuk menghianati negara.’
”Negara, sekarang aku tidak peduli lagi dengan negara pecundang ini.”
”Kau ingat saat itu kita hampir mati di tepi jurang, kita berjuang tidak mau menghianati negara.”
”Itu…”
”Apa kau mau sia-siakan dirimu, keselamatanmu saat itu, dengan begini?”
”Kau tidak…..”
”Kau selalu menganggapku tidak tahu apa-apa. Baiklah, mungkin aku memang begitu. Tapi kau juga tidak tahu
Saat aku terpuruk, siapa yang menghiburku?
Siapa yang menenangkanku dengan janji yang agung?
Siapa yang mau bersamaku, melupakan dendam masa lalu dan berjuang bersama….. Sekarang Siapa, katakan Siapa?
Kumohon kembalilah….. jika bukan demi negara, setidaknya demi aku..”
Wang Bin kembali, ia sadar selama ini dia salah. Ia juga merindukan Yeon Hoo yang selalu mengembalikan hati nuraninya.
Seorang yang mengikuti Yeon Hoo tersenyum, ia mengerti Yeon Hoo mampu menunjukkan kesungguhannya, demi seorang teman ia menantang maut, apalagi demi negara, pasti ia akan melakukan lebih. Orang-orang ahli pedang itu akhirnya mau membantu Yeon Hoo dan menyadari bahwa Wang Bin yang dulu dituduh sebagai pemberontak tidak bersalah. Namun ada seorang yang tidak menyukai Wang Bin, Seseorang yang diam-diam memberi tahu raja dan menyebar isu pemberontakan, Jun Sa Myeon putra Jin Kang. Dendam masa lalu masih membayanginya.
”Kau tahu, pemberontak……. Sebenarnya Kau hanyalah umpan”
”Apa maksudmu? Siapa Kau?”
”Itu tidak penting, kau hanya dimanfaatkan temanmu untuk menarik perhatian kami. Yah… agar kami mau membantunya.”
”Yeon Hoo tidak mungkin seperti itu.”
”lalu seperti apa? Dia hanya ingin mendapatkan nama, pura-pura berjuang demi negara, memanfaatkan teman.. hah….”
”Yeon Hoo…….”
”Cukup…”
”Mana ada yang mau mengorbankan nyawa demi pemberontak sepertimu, penjilat , hah…. tidak mungkin jika bukan karena jabatan.”
”cu………”
”Silakan saja obati hatimu, tenangkan, tetap berkhayal punya seorang teman setia. Wah teman setia…….. hoho lucu sekali.”
Pikiran Wang Bin kacau, selama ini dia tidak punya siapa-siapa, ayahnya meninggal. Ibu juga menyusul tidak lama kemudian. Waktu ia habiskan untuk menghancurkanku, sampai ia menemukan teman dalam diri Yeon Hoo. Namun teman satu-satunya, memanfaatkannya, demi……. Ah. Wang Bin serba salah, hasutan Sa Myeon tepat menusuk ulu hati, Ia bertahan demi negara dan tidak dihargai, sekarang ia kembali demi Yeon Hoo, namun jika Yeon Hoo benar seperti itu, tidak ada lagi alasan untuk bertahan, ia berlari-berlari menuju, Pertambangan Kuk Sang. Memberi tahu pasukan pelindung, akan ada serangan berat malam nanti.
###
Yeon Hoo tidak menemukan Wang Bin dimanapun, ia ingin mencari, namun Sa Myeon menghalanginya dan mengajak menyusun rencana penyerangan malam nanti. Dalam hati ia tersenyum, berhasil menjatuhkan Wang Bin. Ia tidak ingin anak pembunuh itu mendapat perhatian Raja.
Lokasi penambangan dalam keadaan siaga, mereka menyadari akan ada serangan. Beberapa ahli pedang melawan pasukan pelindung, mereka membawa pasukan, walaupun tidak banyak.Yeon Hoo dan Sa Myeon memimpin pasukan untuk merobohkan tambang. Wang Bin mengikuti Yeon Hoo,
”Tunggu, kau penjilat……”
”Wang Bin, dimana saja kau, sekarang ayo bantu aku…”
”Kau… jangan pura-pura, kau menyelamatkanku demi jabatan kan?? dasar penjilat. ”
”Apa maksudmu??”
”Kau kira aku tidak tahu…. Pertemanan kita berakhir. Sekarang bersiaplah untuk mati.”
”Wang Bin kau……..”
Keduanya beradu pedang, sungguh aku tidak ingin melukai Wang Bin, bagaimanapu dia adalah temanku, Yeon Hoo sangat membutuhkannya, meski aku iri, tidak ada alasan bagiku untuk membenci. Tiba-tiba Sa Myeon muncul, berusaha menikam Wang Bin, dia terluka dan terpojok ke pertambangan, kakinya terjepit. Sa Myeon memberi kode pada seorang prajurit untuk merobohkan tambang,
”Wang Bin sungguh, aku memintamu kembali sebagai teman, karena aku butuh kau…..”
”Butuh untuk meraih jabatan kan? Cukup omong kosongmu.”
”Sekarang belum terlambat, bantulah aku. Tidak bisa kau membaca mataku?? Pernah selama ini aku menghianatimu?”
”Kau………..”
”Wang Bin kumohon, percayalah.”
Tambang mulai roboh, Sa Myeon segera pergi, Yeon Hoo berusaha menolong Wang Bin, menebas batu besar yang menjepit kakinya. Batu itu sangat keras, mungkin aku yang akan hancur.
”Batu ini keras, pedang mu yang akan hancur.Sudahlah cepat pergi….”
”Tidak, tanpa kau……”
”Bodoh……. kau akan mati, cepat pergi”
”Wang Bin, aku akan menyingkirkan yang menjepitmu, tahan”
”aku tahu pedang ini bagian dari nyawamu, hentikan dan cepat pergi….”
”Diam ,kita akan pergi bertiga…”
”Aku
Aku Percaya padamu. Kumohon cepat pergi.”
Aku menahan sakit, namun aku sangat ingin menyelamatkan Wang Bin, setidaknya bila aku hancur, Yeon Hoo masih bisa membagi mimpi padanya. Namun reruntuhan tidak bisa menunggu, aku tertancap pada batu itu, padahal tinggal sedikit lagi akan pecah. Wang Bin mendorong Yeon Hoo, dan berusaha mencabutku lalu ingin melemparkannya pada Yeon Hoo
Semua runtuh menimbunku dan Wang Bin. Semua telah berakhir, aku gagal menyelamatkan Wang Bin, Wang Binlah yang ingin menyelamatkanku. Kalian berdua sungguh menghargaiku, kalianlah tuan terakhirku dan yang teragung, terima kasih Yeon Hoo yang sudah mau membagi mimpi denganku, mimpi yang terlalu indah dan tinggi, terima kasih Wang Bin yang melupakan dendammu, berusaha melindungiku. Sekarang patutlah aku berbangga, bukan karena terbuat dari besi pilihan, namun karena mengabdi pada tuan-tuan yang memiliki mimpi agung dan begitu besar hati. Aku tidak peduli jika aku takkan punya tuan lagi, aku tidak ingin ada yang menggantikan kalian, dan tidak akan pernah ada, aku tidak peduli sedikit demi sedikit aku akan hancur, aku sungguh berbangga.
Nanti kau akan menjadi bagian dari kerajaan itu, carilah pengganti yang lebih baik dari aku, jadilah ahli pedang sejati.Tetaplah teguh dengan mimpimu, kami berdua selalu ada disampingmu….
@@@

My Short Story: Aurora Untuk Gadis Pecinta Pelangi




Saat itu aku tak pernah tau, siapa Paman, paman bukan dalam arti denotasi, yang berarti karena suatu pertalian darah, namun paman ini adalah paman yang bertalian jiwa karena berarti dan memberikan makna dalam pandanganku. Pandangan lagi-lagi bukan dalam arti denotasi yang menggunakan indra sepasang dengan dua warna, hitam dan putih, namun pandanganku adalah semua yang terbaca dalam hatiku. Bagiku indra ada enam, walaupun orang-orang berfikir itu konyol, namun aku bangga akan pendapatku bahwa hati adalah indra utama, karena segalanya akan tampak, akan terdengar, akan tercium, akan terasa, dan teraba dengan perasaan dalam hati. Bahkan kebohongan yang tak tampak, suara di dalam yang tak terdengar, dan segalanya yang tak biasa bisa dirasakan. Jadi pandanganku itu menggunakan indra utama, itu pendapatku.
Saat itu aku masih belum begitu mengerti, seperti apa dunia ini, seperti apa yang orang bilang hijau, merah, terang, gelap, lalu yang selalu aku lihat itu apa? Apa itu yang disebut gelap,… aku dengar suara orang-orang di sekitarku yang selalu bilang kalau aku anak tak begitu beruntung,…tapi aku bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan mereka, bahkan saat tak ada yang menemaniku aku tak merasa kesepian, karena aku tak pernah tahu rasanya kebersamaan, jadi mungkin segala yang sebenarnya aku rasakan namun aku tak tau kalau aku merasakannya mungkin karena aku tak pernah merasakan sesuatu yang berlawanan dari itu.
Aku selalu merenungi apa yang pernah terjadi saat aku bersama paman saat itu, paman yang membuatku merasa hidup dan bermakna, yang mengajariku berpikir berdasarkan apa yang kuyakini, dan mengenalkanku pada pelangi. Kata paman, pelangi itu semacam lingkaran, bukan, setengah lingkaran yang terdiri dari himpunan-himpunan warna, warna itu tergantung cara orang melihatnya, saat sedih pasti warna merah yang dominan, saat senang pasti akan tampak lengkungan biru yang berbeda dengan langit, saat bingung, hijau akan lebih menyala, dan lain-lain…aku memang tak mengerti seperti apa itu, tapi setiap kali aku merasakan udara yang lain, hati yang lega dan tenang, paman bilang
”Ada pelangi di langit, warna biru nyata dan lembut, sebentar lagi akan berpindah ke bola matamu, tunggu saja dan mereka akan tercengang….”, perasaan nyaman ini yang membuatku menyukai pelangi, dan seperti sebuah insting, aku hampir tak pernah salah merasakannya. Kali ini pikiranku kembali tertambat pada sebuah harapan, harapan untuk bertemu dengan orang yang pernah memberi arti dalam maknai hidup, dan semua berawal dari sebuah lengkungan yang berwarna biru muda, diikuti lengkungan lain bermacam warna, tujuh, kata orang…
&&&
Wah, cerahnya saat ini, ini yang kurindukan….bau hujan yang masih membekas di hari yang mulai cerah, nikmat yang kutunggu karena aku mulai melihat lengkungan biru, ah ….merah, bukan…itu memang biru, biru berbingkai merah, apa ya artinya…pasti dia juga merasakannya, gadis kecil itu, yang menjadi satu-satunya teman, bukan teman, bagiku dia seperti orang dewasa yang bisa menyadarkanku…. dimana ia sekarang, pasti sudah punya orang lain yang menggantikanku….
Dimana lengkungan itu, ah…lagi-lagi hanya khayalan yang menghubungkanku dengannya, Tuhan memang punya banyak cara untuk tetap menjaga i nteraksi seorang dengan yang pernah ia ketahui…tak ada lagi hal seperti itu di sini….tapi sungguh tak ada yang kusesalkan karena sudah ada yang menggantikannya, mengapa harus merindukan pelangi bila pada saat-saat tertentu s aurora yang melebihi indahnya dapat kita saksikan. Warna yang bercampur dengan kombinasi sempurna, bisa berubah bentuk tanpa mengurangi indahnya, sungguh iatu merupakan hiasan langit terindah. Andai saja gadis itu dapat melihatnya, mungkin akan lain yang ia rasakan. Tapi meskipun begitu, aku tetap merindukan pelangi, entah pelangi atau gadis kecil itu yang kurindukan, tapi aku ingin mencarinya.
Saat itu aku tak tahu apa yang harus kulakukan, aku tak punya teman, mereka menjauhiku karena kata mereka, aku punya sikap aneh, aku selalu kasar, tak punya pola pikir menentu, dan jauh dari kelembutan. Aku selalu merasa rendah diri, itu yang membuatku tak bisa berusaha untuk mengubah diriku, aku hanya menganggap hidup ini hanya untuk menunggu, menunggu, dan harus sabar dalam siksaan, ya begitulah, hidup ini hanya siksaan yang harus ditunggu kapan berakhirnya. Ketika itu aku melihat seorang anak, seperti biasa aku tak acuh saja, untuk apa, namun karena tak ada yang bisa mengalihkan pandanganku, terpaksa kuamati tanpa pikiran apapun. Lama kuperhatikan ada yang lain darinya, pandangannya kosong, matanya tak bergerak sedikitpun, sejak itu aku tahu bahwa ia tak bisa mengerti perbedaan perbedaan yang selalu kulihat, ia buta. Aku merasa iba, untuk yang pertama kalinya, apalagi ia sendiri tanpa teman, aku merasa senasib dan sependeritaan, akhirnya kudekati dia.
” Hai Nak, apa yang kau lakukan disini?”
”Aku senang suasana seperti ini, Paman. ”
” Memangnya apa yang membuatmu senang?”
” Semuanya, harumnya, hangatnya, dan indahnya…apa Paman tak tahu?”
” Indahnya? Bagaimana kau tahu indahnya ?”
” Aku bisa rasakan. ”
” Nak, apa kau punya teman?”
” Teman, untuk apa, aku cukup seperti ini.”
” Apa kau tak kesepian?”
” Apa itu kesepian Paman?, bukankah kita selalu seperti ini,…setiap hari, …”
” Setiap hari?, jadi yang kaulakukan setiap hari hanya seperti ini?”
” Ya… tapi aku senang Paman.”
Saat itu aku tak mengerti, apa yang dipikirkan anak sekecil ini, tak berbeda jauh dariku, tapi aku merasa punya kewajiban untuk menyadarkannya. Hah….menyadarkannya? aneh memang, aku saja tak pernah tau bagaiman cara memaknai hidup dalam keadaan seperti ini. Itulah akhir pertemuan pertamaku dengannya, yang menjadi awal pertemuan-pertemuan berikutnya, sebelum Ayah dan Ibu membawaku ke negeri aurora ini.
Keinginanku untuk mengubah ”pandangan” gadis kecil ini membuatku berusaha mengubah arah hidupku, aku tak lagi menunggu tapi berkeyakinan bahwa ada yang menungguku, aku selalu berusaha mempertahankan keyakinan itu. Seperti air yang mengalir, dan awan yang berarak-arakan entah seperti tanpa ujung, aku mulai berjuang tanpa peduli itu sungguh melenceng jauh dari pola pikirku yang kata orang bukan pola pikir pada umumnya….kata orang
&&&
Kata orang, paman tak pernah kelihatan lagi, mungkin ia belum pulang. Yang paling membuatku terkesan adalah perjuangannya yang seperti air mengalir tanpa henti dan putus, yang mampu mebuatku merasa nyaman. Aku yang selalu menghabiskan waktuku untuk menikmati suasana yang entah seperti apa, yang kuanggap hangat, dan kurasakan indah itu kini mempunyai hal lain yang harus dimengerti, tentang keberadaan semua yang ada, dan memaknai apa yang sudah kita miliki. Seperti pelangi, selalu datang bersama dengan suasana yang nyaman, melegakan, tak hanya satu warna. Aku tak hidup sendiri, aku hidup bersama makhluk lain, lingkungan lain, dalam satu dunia, aku tak berbeda dengan mereka, hanya sedikit lain.
Aku sadar, selama ini aku hanya tak tahu dan tak peduli akan ketidak tahuanku, aku tak sekalipun menikmati apa yang kukatakan menikmati, aku hanya habiskan waktu dengan apa yang kualami dengan berpura-pura bahagia. Padahal aku ada dalam hampa, tanpa makna. Terima kasih karena aku segera tahu, apa yang harus kutahu dan yang harus kulakukan, tak habiskan waktu sia-sia. Semua karena paman, tapi dimana ia sekarang, bukankah ia juga punya masalah…. aku harus membantunya, sebisaku, aku akan mencarinya….. bisakah? Kenapa tidak?
&&&
Pernah terpikir olehku untuk mencarinya, tapi pasti ia sudah melupakanku, untuk apa mengingat orang asing yang berbicara panjang tapi bingung pada yang harus disampaikan. Orang asing itu juga tak bisa mengubah dirinya terlalu banyak, ia hanya berkembang menjadi manusia yang agak lebih meghargai orang lain dan menjadi jarang berbuat yang mengarah pada kekerasan, satu yang perlu diingat bahwa ia mempunyai teman. Tidak semua orang menjauhinya. Dan orang asing itu kembali tak tahu apa yang harus dilakukan untuk selalu mengenang si gadis kecil, ingin pulang kembali ke tanah air, namun apa gunanya? Siapa gadis itu? Apakah dalam tiga pertemuan singkat itu, sempat terpikir olehnya menanyakan nama si gadis? Pertemuan pertama adalah moment membekasnya kesan dan keinginan untuk mengubah pandangan si gadis, pertemuan kedua adalah moment untuk mengajarkan si gadis(yang menurutnya hanya suatu omong kosong panjang lebar tanpa isi) arti kebersamaan, dan terakhir adalah moment perpisahan. Cukup singkat.
Satu sesalku adalah tak mengistimewakan peristiwa yang mengubahku, apakah aku harus menunggu lagi, ah….cukup, menunggu tak membuatku mendapatkan apapun. Hah …..apa yang harus kulakukan, sebenarnya cukup singkat, aku hanya ingin mengajaknya memandang aurora, merasakan indahnya, itu saja…apa aku bisa membawanya untuk menyaksikan aurora ini, ataukah aku bisa membawakan aurora untuknya, konyol….
&&&
Mencarinya??konyol. Siapa Paman itu?, jauh di luar sana, mana mungkin aku bisa mencapainya. Hei ..apa ini, suasana ini, hangat ini, hal nyaman, dan ada yang lain di mataku, memang tetap seperti biasa tapi aku bisa rasakan hal lain dengan indra keenamku…pasti instingku, pasti ada lengkungan di langit yang…..
”Mama, itu apa?”
” Itu…..yang mana…?”
”Itu lho, yang warna-warni di atas….”
”Oh….itu pelangi, cantik kan? ”
”Ma, ambilkan….bisa dibawa pulang kan?”
”Tidak sayang, pelangi itu jauh sekali, Mama tidak mungkin bisa mengambilnya, kerena pelangi bukan cuma untuk kita, tapi untuk semua orang.”
”Oh,….Tapi aku ingin itu Ma….”
”  Nina sayang, kamu bisa kok jadi pelangi yang cantik seperti itu, ….”
”Gimana caranya Ma?”
” Kamu harus jadi pelangi untuk semua orang, pelangi itu membuat semua tersenyum kan? Jadi kamu juga harus buat semua tersenyum…Nina mau kan jadi pelangi?”
”Mau Ma….”
Paman pasti juga menyukai pelangi seperti aku, karena dia yang mengenalkanku pada pelangi saat pertemuan ke dua. Ia juga bilang di pertemuan ke tiga kalau ada yang lebih indah dari pelangi, namanya apa ya…..ah…kalau pelangi saja bisa kurasakan begitu indah, dan kata ibu dan anak itu bisa membuat tersenyum, pasti ”sesuatu” itu bisa membuat semua orang bahagia, bukan hanya tersenyum…aku jadi ingin lihat, tapi itu kan….Cuma ada di luar, jauuuuuh sekali. Aku ingin jadi ”sesuatu” itu buat Paman, walaupun aku ga bisa ketemu paman, tapi aku bisa terus mengingatnya. ”Sesuatu” itu kan pasti bisa buat semua orang bahagia, jadi aku akan membuat semua orang tersenyum penuh kebahagiaan, bagaimana pun caranya…..benar. Itu yang harus kulakukan…akhirnya aku temukan juga, Terima kasih.
&&&
Terima Kasih, aku  akan berusaha menemukan yang terbaik. Aku ingat, gadis yang penyendiri, tak tahu artinya teman, apakah semua anak yang agal berbeda seperti gadis itu selalu merasakan hal yang sama. Alangkah malang, justru penderitaan itu muncul bukan dari apa yang mereka miliki, tapi dari apa yang mereka pikirkan. Alangkah malangnya, mungkin mereka memerlukan suatu pencerahan yang memberi kesan untuk sedikit memaknai hidup. Ah ……aku tahu sekarang, ….
&&&
Di belahan yang berbeda, terbitlah ah… muncullah hiasan di langit, dua bentuk aurora paling indah yang menakjubkan, saling mempersembahkan keindahan demi karunia yang didapatkan. Satu belahan bumi terbit aurora yang mengenalkan arti sebuah kebahagiaan untuk semua orang, satu belahan bumi terdapat lembaga, dimana anugerah-anugerah yang merasa kurang sempurna berkumpul, dengan bimbingan dan pencerahan yang penuh kelembutan, mengajarkan mereka arti hidup dan cara memaknai hidup tan pa merasa berbeda dengan yang lain. Bright Miracle of Aurora, lembaga yang didirikan oleh seseorang, ingin mempersembahkan hiasan terindah di langit, Aurora, kepada gadis kecil yang mampu mengubah pandangan hidupnya…

My Short Story : Kelana Sepintal Sutra Mencurah Jarum-Jarum Emas

Aku hidup di dua dunia, satu untuk mereka dan satu untukku. Aku tak dapat menentukan apakah aku merupakan hasil ciptaan yang memiliki suatu bentuk ekspresi yang dimiliki ciptaan lain, dimana mereka selalu mendambakan peristiwa-peristiwa yang menghasilkan ekspresi itu. Karena aku juga tak memiliki hal yang menjadi syarat utama terlahirnya ekspresi itu, hal itu abadi, dinanti, dan selalu berarti. Bagiku satu tahun berada dalam kungkungan sudah menjadi aktivitas yang merupakan kebiasaan, bahkan mungkin menjadi aneh bila aku tak merasakan belenggu-belenggu. Semua yang di sekitarku bersama dengan yang di sekitarku pula, diam dan terus mencari, itulah yang kulakukan selama ini.
Semua dan hanya berasal dari teknologi visual saja aku bisa mengenal berbagai sifat dan tabiat manusia, aku mulai meraba-raba untuk menentukan sebuah kriteria yang akan menjadi bekal sebuah syarat terdamba. Saat segala cipta, rasa, dan karsa dari semua makhluk yang tinggal di dunia tempatku menumpang, dunia mereka, mulai merasa nyaman dengan ketakberadaanku, aku akan terbang ke duniaku….bersama seorang terdamba hasil imaji harapku yang akan menghadirka ekspresi yang selama ini tak pernah singgah di hatiku. Bagiku dia sempurna, aku tak kan memberimya nama, cukup hati dan perannya saja yang kukanal, saat semua  menjauh, dia dekat, saat semua membuat jenuh, dia menghibur, dan dia selalu ada untukku.
###
Jarum waktu sibuk bergeser, berusaha menjadi seperti pedang yang mengincar orang-orang pembenci efektivitas. Tapi sayang, itu tak berlaku untukku karena setiap ia bergeser, seberapa jauhpun, tetap monoton. Aku tetap sendiri, satu-satunya perkembangan yang terjadi adalah perkenalanku dengan ”syarat ekspresi terdamba”. Aku meninggalkan mereka untuk sejenak, aku sedang berlari dalam duniaku, menemuinya, dia sedang menungguku di tepi lembah…. Ia memandang lurus, dengan senyum yang tak pernah lepas, sepeda tua yang setia menemaninya berdiri kokoh dengan sejuta pesona. Saat aku tepat di belakangnya dia seperti merasakan kehadiranku, menoleh, lagi-lagi senyum itu tak pernah lepas, entah mengapa secara otodidak aku mendapatkan ekspresi yang selama ini aku nantikan.
Dia berdiri, menaiki sepedanya lalu membarikan isyarat untuk naik, aku menurut karena aku tahu itu adalah awal dari sebuah kisah menarik, ia pasti mengajakku ke negeri impian, hei tunggu …. bukankah duniaku ini juga Cuma impian ? Impian apalagi, apakah dalam impian masih ada impian….. yang jelas aku senaaang, senang, senaaang sekali.
###
Satu hal yang paling tidak aku sukai dari ”dunia mereka” adalah aku dipaksa mengikuti segala aturan mereka, megikuti segala pola pikir mereka dan segala yang mereka anggap benar.
” Melamun lagi Kaf…?”
” Ah….. Nisa, kamu mengagetkanku. Aku sedang menerawang apa yang akan kulakukan hari ini.”
” Maksudmu ? Bukankah itu sudah jelas, hari ini belajar, membantu ibu, kemudian kita main.”
” Itu tidak jelas, maksudku apa yang berbeda dari hari kemarin. Kenapa kita hidup harus selalu seperti itu ?”
” Seperti apa ?”
” Yang kau bilang tadi, belajar, bantu ibu, lalu main. Kenapa setiap hari itu…. terus, selalu begitu.”
” Itu memang sudah sewajarnya kan ? Hellow Kafka….. jangan berpikir seperti anak kecil, rok mu sudah abu-abu…”
” Memangnya yang aku tanyakan itu seperti anak kecil ?”
” Sudahlah…. Kapan kau berhenti bersikap seperti ini ? Semua menganggapmu aneh,…. ”
” Tidak semua, kamu tidak kan…”
” Sebentar lagi iya…”
” Ya sudahlah.”
” Sudah…”
Dia termasuk dalam ”mereka”, sebenarnya siapa yang salah ? aku atau mereka ? Aku salah karena tak bisa menyatu dengan mereka, dunia mereka luas… yang kudapati ini hanya sebagian, apa belahan lain juga seperti ini ?
###
Dari balik semak, perlahan aku melihat kilasan cahaya. Aku bisa mendengar kepak sayap kupu-kupu, lalu kecipak ikan yang membelah sungai, dari kejauhan tampak baju putih kusam namun selalu tegap, di samping sepeda tua. Aku tahu, ini ”duniaku”……..
Kami berjalan di sela-sela pohon mahoni yang hijau dan coklat, dimana setiap ada langkah mereka iringi dengan guguran warna-warna. Dia bilang akan menunjukkan sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku sadari ia lebih diam dari sebelumnya, namun senyum itu tetap dijaga. Aku tahu, dialah yang terbaik.
Aku tak percaya dengan yang kulihat, semua begitu nyata, ”duniaku” dan ”dunia mereka” beradu, tapi semua tak menyadari kehadiran kami, hanya aku takjub melihat sisi lain dari ”dunia mereka”. Karena yang biasanya kulihat, hidup monoton penuh egoisme, kini berganti dengan pesona jiwa yang sangat hangat, dimana aura-aura keindahan terpancar dari dalam diri semua individu, aku… untuk yang kedua kalinya memperoleh ekspresi itu, walau kusadari itu hanya terjadi dalam ”duniaku”, mimpi dalam mimpi..
Sungguh satu-satunya inginku hanya tinggal disini, tapi entahlah ”dia” tak mengizinkanku, aku tahu semua yang ”dia” katakan, rasakan, dan lakukan adalah kebaikan.
” Kafka, apa yang kau rasakan ?”
” Aku,….”
” Katakan saja……..”
” Indah…”
” Lalu ?”
” Nyaman….”
” Apa lagi ?”
” ……….”
’Dia’ menengokku, sikapnya penuh kedewasaan, aku…… ingin mengatakan sesuatu, tapi jauh….jauh sekali dari jangkauan lingualku.
” Aku…..”
”……………………………”
” Bahagia.”
Senyum-nya, lebih indah dari biasanya sampai kapanpun aku takkan pernah lupa, kata itu, mungkin aku bisa katakan dengan lancar dalam hatiku, tapi untuk mengucapkannya secara lisan, jujur aku belum pernah.
” Aku sudah membawamu sejauh ini, aku tak ingin kamu kecewa dengan hidup secara berbeda di dunia yang berbeda, aku tak ingin membawamu pergi dari duniamu………”
” Tapi ini duniaku……..”
” Bukan, itu duniamu, bersama mereka….”
” Aku bukan bagian dari mereka, aku ingin disini…..”
” Takdirmu menjadi bagian dari mereka, Kau tahu, kau sangat sangat beruntung. Kau tinggal di dunia yang lebih indah dari ini, kau hanya belum menyadari, apa yang kau lihat itu adalah kenyataan yang tak pernah kau pikirkan, kau bisa membuatnya benar-benar ada dengan pola pikirmu.”
”Aku……tak mengerti.”
” Kau pasti mengerti, dengan intuisimu kau bisa sampai kesini, membuatku tak henti tersenyum, dan dengan itu pula kau akan menemukan duniamu di sela irisan ”dunia mereka”…..sekarang saatnya kau memulainya, aku akan menemanimu, tapi tidak disini…….”
Untuk pertama kalinya ”dia” menyentuhku, membelai rambutku, hanya sekali namun disertai senyum terindah, kemudian ”ia” lenyap. Aku hanya membisu, apanya yang menemani…………
###
Sekarang aku akan mengucapkan selamat tinggal pada ekspresi itu, aku belum bisa menerima lenyapnya ”dia” dan ”duniaku”, aku belum bisa menerima ”dunia mereka” sebagai ”duniaku”. Aku Cuma punya satu alasan mengapa aku terus bertahan di dunia ini, Aizan adikku, yang tak pernah merasakan ”dunia mereka” , semua orang mengira dia mengalami gangguan mental, semua mengira ia hina, ia berbeda dengan mereka, ia rendah. Padahal mereka tak tahu, aku menemukan ”duniaku” dari dia, aku bertemu dengan ”dia” juga dari dia. Aku mengerti pembicaraanya, aku tahu saat ia berkata-kata, ia sedang berada dalam ”duniaku”, ia sedang berada disana sangaaat lama, ”dia” mengizinkan adikku untuk tinggal disana, sedangkan aku hanya boleh singgah sebentar.
Sudah sepuluh tahun umurnya, halaman itu adalah tempat tumbuhnya. Aku melarang ayah mengirimnya ke tempat ”orang-orang berbeda”, dijauhi semua orang. Entahlah darimana beliau dapat pikiran semacam itu, apa beliau sudah terkontaminasi ”mereka”, ibu juga sudah tidak menghiraukan kami, sibuk dengan ”mereka”. Sudah beberapa hari ini adikku diam saja…
” Kaf, sampai kapan kamu mau menunggui adikmu itu ?”
” Ayah, mengapa tanya begitu, tentu saja sampai Aizan sembuh.”
” Mengertilah Nak, dia tidak akan sembuh, dokter seahli apapun tak bisa mengobatinya, bahkan saat ini dia sudah semakin parah, kalau tiga hari lagi ia tidak juga sadar dari linglungnya, Ayah sudah mempersiapkan rumah sakitnya…….”
”Ke…..Kenapa ?”
”Ayah dan Ibu sudah tidak sanggup lagi mengurusinya, Aizan itu juga membawa aib keluarga, sadarlah….ia juga membuatmu dikucilkan, ia mengganggu konsentrasi belajarmu.”
” Ayah pikir dengan menambah deritanya, aku akan tenang…… Ayah tahu, semua orang disini aneh, semua tak punya nurani, semuanya bodoh, ….”
”Kau….lihatlah, semakin lama kau juga semakin aneh, sudahlah kalau tiga hari ini tidak menunjukkan perubahan, Aizan akan ayah bawa ke rumah sakit jiwa.”
Lengkap sudah beban hidupku, aku tak punya pelarian, Aizan yang jadi satu-satunya alasanku bertahan disini, akan………
###
Satu yang aku pikirkan adalah tiga hari yang menjadi pintu gerbang kematian. Hari pertama aku memutuskan untuk merenung, ini memang sudah menjadi kebiasaanku, namun ini bukanlah yang biasa karena dulu saat aku merenung, aku ada di ”duniaku”, namun sekarang renunganku adalah masalah-masalah yang semakin memusingkanku, mana sempat terbesit olehku dunia itu yang ada hanyalah Aizan….Aizan dan Aizan.
Disini aku tak mempunyai teman, mungkin orang yang kuanggap agak lain hanyalah Nisa, tapi ia juga sudah terkontaminasi, aku mau minta tolong pada siapa. Apa ya yang sebaiknya aku lakukan, aduh aku bingung….. namun tiba-tiba muncul bayangan rumah sakit, ah itu yang justru sangat aku hindari, dan muncul deru ambulans yang menggila, diiringi tangisan-tangisan dan teriakan-teriakan, Tuhan aku bingung, kepalaku mulai sakit, wajah Aizan, ayah, Ibu, Nisa, datang silih berganti, aku ingin mengobati sakit kepalaku ini, aku coba memusatkan fokus, ah….. muncul lagi, kali ini jarum-jarum suntik berserakan, teriakan muncul lagi, ………. Aizan, Aizan……aku ….
###
Aku mencari tempat-tempat yang menyenangkan, mungkin tak ada yang seperti duniaku, tapi aku bisa jadi lebih tenang, setidaknya aku tak lagi memikirkan rumah sakit, ataupun ambulans, aku menyesal telah menghabiskan satu hari hanya dengan gangguan-gangguan yang membuatku tak sadarkan diri, aku terlalu menganggap rumit hingga aku merasa tertekan. Tapi kali ini, aku tak kan menyerah, fokus. Aku akan melakukan ritual, perlahan udara penuh kehidupan memasuki paru-paruku, wangi mawar dan melati mulai terhirup, kibaran daun beringin mulai terasa, saat mata terpejam, semua terasa lebih damai, kemudian mencoba meraba-raba, menyesuaikan diri dengan cahaya di sekitar, di hadapanku terhampar sungai jernih….. dengan kecipak riang sebagai obat hati. Awalnya aku mengira ini adalah ”duniaku”, tapi lama aku perhatikan sekeliling, ternyata ini memang ”dunia mereka”.
Sebagai kakak yang baik, aku harus tahu apa yang terjadi pada Aizan, dia memang berbeda, tapi bukankah aku pernah berada di dunia yang sama dengannya, jadi aku harus……..
Baiklah, aku tahu apa yang akan aku lakukan, pertama-tama aku akan menghirup udara segar, kemudian memahami keindahan yang telah lama kuabaikan, kemudian aku akan pulang ke rumah, dan……it is show time
###
Mawar putih setangkai, yang pink dua tangkai, lyly putih tiga tangkai, dengan selipan anggrek bulan, jika ada aku butuh daffodil … tapi sudahlah, membuka hati seorang adik yang terpenting adalah hati pemegang kunci.
” Aizan………sayang, Kakak pulang loh……..Ai…….Izannnnnnnn….”
”………………………..”
” Aizan…………..Aizan………..”
” Dia……. pergi.”
” Pergi ? Ke Taman ? Dengan siapa Bu?”
” Dengan Ayahmu, ke Rumah sakit.”
” Apa… ”
” Karena dia kan kamu sampai pingsan, karena dia mentalmu jadi terganggu, karena dia……….”
” Karena dia, aku bisa membuka mata untuk dunia. Kenapa ayah ingkar janji ? Di rumah sakit mana Aizan?”
” Sudahlah, jangan……”
” Sudahlah, lagi-lagi sudahlah….. Ibu, aku sudah cukup bersabar selama ini, sekarang tolong jawab di rumah sakit mana Aizan?”
”……….”
” Ibu, tolong…………”
” Rumah Sakit Pelita Harapan, dia baru saja berangkat…….”
” Baiklah, tolong do’akan ……”
Air mata, kecewa, bunga yang gugur, kaki yang lunglai, semua menjadi satu dan semakin menambah kekalutan. Tapi aku tahu, bila terus seperti ini aku pasti hanya akan mendapat bayangan ambulans, rumah sakit, dan sebagainya, jadi fokuslah.
###
Akhirnya, dia masih bisa kulihat. Tepat di taman Rumah Sakit Pelita Harapan, dengan tergesa Ayah menggendongnya. Aku biarkan demikian, karena aku belum bisa menguasai hatiku sepenuhnya, mungkin esok aku akan kembali untuk menemuinya, dengan membawa Daffodil. Aku akan menemui ”dia” entah bagaimana caranya, entah itu atas izin dari-nya.
Aku, yang telah mengucapkan selamat tinggal pada ekspresi itu, yang memendam kemarahan pada-nya karena ”dia” yang mengenalkanku pada ekspresi itu, hanya membiarkanku mengecap dua kali, kemudian memaksaku meninggalkannya, yang berbohong padaku, karena nyatanya ”ia” tidak menemaniku. Tapi ”ia” juga mengizinkanku singgah sebentar di dunia impian, mengenalkanku pada dunia adikku, menunjukkan sisi indah ”dunia mereka”.
###
Dan pada tempat yang sama, di bawah pohon beringin sepoi itu, di tepi sungai transparan itu, aku menemukan Daffodil terindah. Aku bawa ke taman, aku dapati Aizan merenung, namun bibirnya tertarik ke atas, dan tatapannya tak sekosong biasanya.
”Aizan……”
” ………….”
” Ini mawar putih, lambang kesucian.”
” …………………….”
”Sama seperti dalam dunia itu, tapi lebih cerah kan? Ini artinya kesucian akan lebih bermakna kalau ada di dunia yang penuh tantangan seperti di ’dunia mereka’ .”
” Su…..ci…..”
” Iya, lalu ini mawar pink, coba pegang ! ini lambang cinta dan kasih sayang.”
”…….Cin…”
” Cinta dan sayang, seperti ”Kakak baju putih” itu, sayang sama Aizan…. makanya Aizan sering diajak jalan-jalan…..”
”………..Jalan……Ja……..lan……”
”Dan ini Lyly putih, lambang kejujuran,……..”
” …….Ly…..ly……..ju…….”
” Apa yang kamu lihat disana, juga sama seperti disini…… tidak ada yang berbohong, semua kenyataan.”
Kecuali saat ”dia” berjanji mau menemaniku.
”Yang terakhir adalah ini…….coba lihat….”
”………………..
…………….Da………”
”Tepat, daffodil, kakak tahu ini memang tidak mirip, tapi kakak sendiri loh yang buat, ……”
”……………”
” Ini lambang sebuah misteri, kalau disana, di ”dunia kita” semuanya terbuka dan jelas melambangkan keindahan, tapi di sini, di ”dunia mereka”, ada suatu rahasia hidup, sebuah misteri,………….”
” Ra………..ha………”
”  Tugas kita disini adalah memecahkan misteri itu. Jadi tolong kamu kembali ya……. banyak sekali yang harus depecahkan disini, dan setelah itu, kita akan mendapatkan yang lebih indah.”
”in……….dah……………”
” Iya, dan ’Kakak baju putih’ itu juga akan menemanimu kan, walaupun bukan di sana…………….”
”………………………………………………………………………………..”
” Ai……….zan, Kakak mohon……………………………”
”………………………………………….”
” Ai……………………………………”
Lagi-lagi menetes, padahal sungguh aku tidak mengharapkan. Setidaknya, tadi malam aku bisa menemui-nya, banyak hal yang ia beritahu, banyak hal yang kuingat saat di ”duniaku”. Aku ingin Aizan………tapi aku hargai apapun keputusannya, ia masih anak kecil, yang sebaiknya memang tinggal di ”dunianya” , ”duniaku” dulu, yang tanpa cela. Aku, terima apapun keputusannya………..
”Ka………….kak,…………….”
” Ai………………………………..kau memanggilku ?”
Sungguh aku tak bisa mengungkapkannya, dia…..memutuskan
”Kak………..Kaf………………ka…………..”
Senyum terkembang dari bibirnya, tatapannya tak lagi kosong, dia genggam erat mawar pink itu, bahkan ia meminta Daffodil kertas yang aku buat, masih membekas tetesan-tetesan itu, menjadi bercak dalam bunga.
” Mis…………………te,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,ri………………”
`                ###
Masih di tepi beringin sepoi, sepasang anak manusia, duduk termenung. Namun bukan tenggelam dalam dunia mereka, hanya mencoba mengimbangi kejernihan sungai dengan transparansi jiwa mereka. Kerinduan akan ”dia yang berbaju putih” telah lenyap, karena mereka tahu, ”dia” ada dan selalu menemani mereka saat transparansi jiwa itu berimbang. Tak ada lagi ”dunia mereka” , yang ada hanya ”dunia daffodil” dimana mereka akan tumbuh dan membuat semuanya menjadi ”dunia cahaya” , yang bahkan lebih mengesankan dari ”duniaku”. Untuk sebuah ekspresi terdamba



@@@